Sabtu, 11 Januari 2025

SYUBHAT SURAT AL-IKHLASH

Nama Al-Ahad ini hanya disebutkan dalam satu surat saja, yaitu di dalam Surat Al-Ikhlash (112)
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Robb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
 
ْسُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنْ رَّبِهِ فَنَزَلَ : { قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ } فَاللهُ خَبَرُ هُوَ وَأَحَدٌ بَدْلُ مِنْهُ أَو خَبَرٌ ثَانٍ
1. (Katakanlah, "Dialah Allah Yang Maha Esa") lafal Allah adalah Khabar dari lafal Huwa, sedangkan lafal Ahadun adalah Badal dari lafal Allah, atau Khabar kedua dari lafal Huwa.
{ اَللهُ الصَّمَدُ } مُبْتَدَأٌ وَخَبَرٌ أَيْ اَلْمَقْصُوْدُ فِي اْلحَوَائِجِ عَلَى الدَّوَامِ
2. (Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu) lafal ayat ini terdiri dari Mubtada dan Khabar; artinya Dia adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu untuk selama-lamanya.
{ لَمْ يَلِدُ } لِانْتِفَاءِ مُجَانِسَتِهِ { وَلَمْ يُوْلَدْ } لِانْتِفَاءِ اْلحُدُوْثِ عَنْهُ
3. (Dia tiada beranak) karena tiada yang menyamai-Nya (dan tiada pula diperanakkan) karena mustahil hal ini terjadi bagi-Nya.
{ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ } أَيْ مُكَافِئًا وَمُمَاثِلًا وَلَهُ مُتَعَلَّقٌ بِكُفُوًا وَقُدِّمَ عَلَيْهِ لَِأنَّهُ مَحَطُ اْلقَصْدِ بِالنَّفْيِ وُأخِّرَ ِأٌحَدٌ وَهُوَ اسْمُ يَكُنْ عَنْ خَبَرِهَا رِعَايَةً لِلفَاصِلَة
4. (Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia) atau yang sebanding dengan-Nya, lafal Lahu berta'alluq kepada lafal Kufuwan. Lafal Lahu ini didahulukan karena dialah yang menjadi subjek penafian; kemudian lafal Ahadun diakhirkan letaknya padahal ia sebagai isim dari lafal Yakun, sedangkan Khabar yang seharusnya berada di akhir mendahuluinya; demikian itu karena demi menjaga Fashilah atau kesamaan bunyi pada akhir ayat.
Al-Qur'nul Karim Surah Al-Baqoroh (7) ayat 180
وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۖ
Dan Allah memiliki Asma'ul-husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asma'ul-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
Al-Qur'nul Karim Surah Al-Isro (17) ayat 110
قُلِ ادْعُوا اللّٰهَ اَوِ ادْعُوا الرَّحْمٰنَۗ اَيًّا مَّا تَدْعُوْا فَلَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًا
Katakanlah (Muhammad), “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asma‘ul husna) dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam salat dan janganlah (pula) merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu.”
Al-Qur'nul Karim Surah Al-Hasyr (59) ayat 24
هُوَ اللّٰهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۗ يُسَبِّحُ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
H.R. Bukhori no. 2736 dan H.R. Muslim no. 6/2677
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ "‏ إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمَا مِائَةً إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ ‏"‏‏.‏
"Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu, siapa yang menjaganya maka dia masuk surga."
Hadits riwayat Imam Ahmad no. 3712, Imam Al-Hakim no. 1877 dan yang lainnya. Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shohihah no. 199 menyatakan bahwa hadits terkait berada dalam tingkatan shohih.
( ...أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ ...)
"Saya memohon dengan seluruh nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakan diri-Mu dengannya, yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, yang Engkau turunkan di dalam Kitab-Mu atau yang Engkau sembunyikan di ilmu ghaib di sisi-Mu..."
Syaekh Imam An-Nawawi rohimahullah dalam Syarh Shohih Muslim, 9: 39 berkata,
وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّ هَذَا الْحَدِيث لَيْسَ فِيهِ حَصْر لِأَسْمَائِهِ سُبْحَانه وَتَعَالَى ، فَلَيْسَ مَعْنَاهُ : أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ أَسْمَاء غَيْر هَذِهِ التِّسْعَة وَالتِّسْعِينَ ، وَإِنَّمَا مَقْصُود الْحَدِيث أَنَّ هَذِهِ التِّسْعَة وَالتِّسْعِينَ مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّة ، فَالْمُرَاد الْإِخْبَار عَنْ دُخُول الْجَنَّة بِإِحْصَائِهَا لَا الْإِخْبَار بِحَصْرِ الْأَسْمَاء
Ulama bersepakat bahwa hadits ini tidak menunjukkan pembatasan nama Allah Ta’ala. Tidaklah maknanya bahwa Allah tidak memiliki nama selain ke-99 nama tersebut. Makna hadits tersebut adalah barangsiapa yang menghitung ke-99 nama tersebut maka masuk surga, sehingga yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah kabar masuk surga bagi yang menghitung nama Allah, bukan pembatasan nama Allah.”

Nama-Nama Allah S.W.T 99 Asmaul Husna
1- Ar-Rohmanu الرَّحْمـٰنُ Yang Maha Pengasih
2- Ar-Rohimu الرَّحِيْمُ Yang Maha Penyayang
3- Al-Maliku الْمَلِكُ Yang Maha Merajai/Memerintah
4- Al-Quddusu الْقُدُّوْسُ Yang Mahasuci 
 As-Salamu السَّلاَمُ Yang Maha Memberi Kesejahteraan
6- Al-Mu’minu الْمُؤْمِنُ Yang Maha Memberi Keamanan
7- Al-Muhaiminu الْمُهَيْمِنُ Yang Maha Pemelihara
8- Al-`Azizu الْعَزِيْزُ Yang Memiliki Mutlak Kegagahan
9- Al-Jabbaru الْجَبَّارُ Yang Maha Perkasa
10- Al-Mutakabbiru الْمُتَكَبِّرُ Yang Maha Megah
11- Al-Kholiqu الْخَالِقُ Yang Maha Pencipta
12- Al-Bari’u الْبَارِئُ Yang Maha Melepaskan
13- Al-Mushowwiru الْمُصَوِّرُ Yang Maha Membentuk Rupa (makhluknya)
14- Al-Ghoffaru الْغَفَّارُ Yang Maha Pengampun
15- Al-Qohharu الْقَهَّارُ Yang Maha Memaksa
16- Al-Wahhabu الْوَهَّابُ Yang Maha Pemberi Karunia
17- Ar-Rozzaqu الرَّزَّاقُ Yang Maha Pemberi Rezeki
18- Al-Fattahu الْفَتَّاحُ Yang Maha Pembuka Rahmat
19- Al-`Alimu الْعَلِيْمُ Yang Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)
20- Al-Qobidlu الْقَابِضُ Yang Maha Menyempitkan (makhluknya)
21- Al-Basithu الْبَاسِطُ Yang Maha Melapangkan (makhluknya)
22- Al-Khofidlu الْخَافِضُ Yang Maha Merendahkan (makhluknya)
23- Ar-Rofi`u الرَّافِعُ Yang Maha Meninggikan (makhluknya)
24- Al-Mu`izzu الْمُعِزُّ Yang Maha Memuliakan (makhluknya)
25- Al-Mudzillu الْمُذِلُّ Yang Maha Menghinakan (makhluknya)
26- As-Sami`u السَّمِيْعُ Yang Maha Mendengar
27- Al-Bashiru الْبَصِيْرُ Yang Maha Melihat
28- Al-Hakamu الْحَكَمُ Yang Maha Menetapkan
29- Al-`Adlu الْعَدْلُ Yang Mahaadil
30- Al-Lathifu اللَّطِيْفُ Yang Mahalembut
31- Al-Khobiru الْخَبِيْرُ Yang Maha Mengetahui Rahasia
32- Al-Ḫalimu الْحَلِيْمُ Yang Maha Penyantun
33- Al-`Adhimu الْعَظِيْمُ Yang Mahaagung
34- Al-Ghofuru الْغَفُوْرُ Yang Maha Pengampun
35- Asy-Syakuru الشَّكُوْرُ Yang Maha Pembalas Budi (Menghargai)
36- Al-`Aliyyu العَلِيُّ Yang Maha Tinggi
37- Al-Kabiru الْكَبِيْرُ Yang Maha Besar
38- Al-Ḫafidhu الْحَفِيْظُ Yang Maha Menjaga
39- Al-Muqitu الْمُقِيْتُ Yang Maha Pemberi Kecukupan
40- Al-Ḫasibu الْحَسِيْبُ Yang Maha Membuat Perhitungan
41- Al-Jalilu الْجَلِيْلُ Yang Mahamulia
42- Al-Karimu الْكَرِيْمُ Yang Maha Pemurah
43- Ar-Roqibu الرَّقِيْبُ Yang Maha Mengawasi
44- Al-Mujibu الْمُجِيْبُ Yang Maha Mengabulkan
45- Al-Wasi`u الْوَاسِعُ Yang Maha Luas
46- Al-Ḫakimu الْحَكِيْمُ Yang Maha Maka Bijaksana
47- Al-Wadudu الْوَدُوْدُ Yang Maha Pencinta
48- Al-Majidu الْمَجِيْدُ Yang Maha Mulia
49- Al-Ba`itsu الْبَاعِثُ Yang Maha Membangkitkan
50- Asy-Syahidu الشَّهِيْدُ Yang Maha Menyaksikan
51- Al-Ḫaqqu الْحَقُّ Yang Mahabenar
52- Al-Wakilu الْوَكِيْلُ Yang Maha Memelihara
53- Al-Qowiyyu الْقَوِيُّ Yang Mahakuat
54- Al-Matinu الْمَتِيْنُ Yang Mahakokoh
55- Al-Waliyyu الْوَلِيُّ Yang Maha Melindungi
56- Al-Ḫamidu الْحَمِيْدُ Yang Maha Terpuji
57- Al-Muḫshi الْمُحْصِيْ Yang Maha Mengalkulasi
58- Al-Mubdi’u الْمُبْدِئُ Yang Maha Memulai
59- Al-Mu`idu الْمُعِيْدُ Yang Maha Mengembalikan Kehidupan
60- Al-Muḫyi الْمُحْيِ Yang Maha Menghidupkan
61- Al-Mumitu الْمُمِيْتُ Yang Maha Mematikan
62- Al-Ḫayyu الْحَيُّ Yang Mahahidup
63- Al-Qayyumu الْقَيُّوْمُ Yang Mahamandiri
64- Al-Wajidu الْوَاجِدُ Yang Maha Penemu
65- Al-Majidu الْمَاجِدُ Yang Mahamulia
66- Al-Wahidu الْوَاحِدُ Yang Maha Tunggal
67- Al-Ahadu الْأَحَدُ Yang Maha Esa
68- Ash-Shomadu الصَّمَدُ Yang Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta
69- Al-Qodiru الْقَادِرُ Yang Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan
70- Al-Muqtadiru الْمُقْتَدِرُ Yang Maha Berkuasa
71- Al-Muqoddimu الْمُقَدِّمُ Yang Maha Mendahulukan
72- Al-Muakhiru الْمُؤَخِّرُ Yang Maha Mengakhirkan
73- Al-Awwalu الْاَوَّلُ Yang Mahaawal
74- Al-Akhiru الْآخِرُ Yang Mahaakhir
75- Adh-Dhohiru الظَّاهِرُ Yang Mahanyata
76- Al-Bathinu الْبَاطِنُ Yang Maha Ghaib
77- Al-Wali الْوَالِي Yang Maha Memerintah
78- Al-Muta`ali الْمُتَعَالِي Yang Maha Tinggi
79- Al-Barru الْبَرُّ Yang Maha Penderma
80- At-Tawwabu التَّوَّابُ Yang Maha Penerima Tobat
81- Al-Muntaqimu الْمُنْتَقِمُ Yang Maha Penuntut Balas
82- Al-`Afuwwu الْعَفُوُّ Yang Maha Pemaaf
83- Ar-Ro’ufu الرَّؤُوْفُ Yang Maha Pengasih
84- Malikul-mulki مَالِكُ الْمُلْكِ Yang Maha Penguasa Kerajaan (Semesta)
85- Dzul-Jalali wal-Ikrom ذُوْ الْجَلَالِ وَالْاِكْرَامِ Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
86- Al-Muqsithu الْمُقْسِطُ Yang Mahaadil
87- Al-Jami`u الْجَامِعُ Yang Maha Mengumpulkan
88- Al-Ghoniyyu الْغَنِيُّ Yang Maha Berkecukupan
89- Al-Mughnî الْمُغْنِيْ Yang Maha Memberi Kekayaan
90- Al-Mani`u الْمَانِعُ Yang Maha Mencegah
91- Adl-Dloru الضَّارُ Yang Maha Memberi Derita
92- An-Nafi`u النَّافِعُ Yang Maha Memberi Manfaat
93- An-Nuru النُّوْرُ Yang Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)
94- Al-Hadi الْهَادِيْ Yang Maha Pemberi Petunjuk
95- Al-Badi`u الْبَدِيْعُ Yang Maha Pencipta
96- Al-Baqi الْبَاقِيْ Yang Mahakekal
97- Al-Waritsu الْوَارِثُ Yang Maha Pewaris
98- Ar-Rosyidu الرَّشِيْدُ Yang Mahapandai
99- Ash-Shoburu الصَّبُوْرُ Yang Mahasabar
1. Al-Qur'nul Karim Surah Al-Baqoroh (2) ayat 163
وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ
Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
2. Al-Qur'nul Karim Surah An-Nisa (4) ayat 171
يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ وَلَا تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّۗ اِنَّمَا الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُوْلُ اللّٰهِ وَكَلِمَتُهٗ ۚ اَلْقٰهَآ اِلٰى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِّنْهُ ۖفَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖۗ وَلَا تَقُوْلُوْا ثَلٰثَةٌ ۗاِنْتَهُوْا خَيْرًا لَّكُمْ ۗ اِنَّمَا اللّٰهُ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ ۗ سُبْحٰنَهٗٓ اَنْ يَّكُوْنَ لَهٗ وَلَدٌ ۘ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ وَكِيْلًا
Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sungguh, Al-Masih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, “(Tuhan itu) tiga,” berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Mahasuci Dia dari (anggapan) mempunyai anak. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung.
3. Al-Qur'nul Karim Surah Al-Maidah (5) ayat 73
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ ثَالِثُ ثَلٰثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّآ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ ۗوَاِنْ لَّمْ يَنْتَهُوْا عَمَّا يَقُوْلُوْنَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan, bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih.
4. Al-Qur'nul Karim Surah Al-An'am (6) ayat 19
قُلْ اَيُّ شَيْءٍ اَكْبَرُ شَهَادَةً ۗ قُلِ اللّٰهُ ۗشَهِيْدٌۢ بَيْنِيْ وَبَيْنَكُمْ ۗوَاُوْحِيَ اِلَيَّ هٰذَا الْقُرْاٰنُ لِاُنْذِرَكُمْ بِهٖ وَمَنْۢ بَلَغَ ۗ اَىِٕنَّكُمْ لَتَشْهَدُوْنَ اَنَّ مَعَ اللّٰهِ اٰلِهَةً اُخْرٰىۗ قُلْ لَّآ اَشْهَدُ ۚ قُلْ اِنَّمَا هُوَ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ وَّاِنَّنِيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang lebih kuat kesaksiannya?” Katakanlah, “Allah, Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Al-Qur'an ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai (Al-Qur'an kepadanya). Dapatkah kamu benar-benar bersaksi bahwa ada tuhan-tuhan lain bersama Allah?” Katakanlah, “Aku tidak dapat bersaksi.” Katakanlah, “Sesungguhnya hanya Dialah Tuhan Yang Maha Esa dan aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).”
5. Al-Qur'nul Karim Surah Yusuf (12) ayat 39
يٰصَاحِبَيِ السِّجْنِ ءَاَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُوْنَ خَيْرٌ اَمِ اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُۗ
Wahai kedua penghuni penjara! Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa?
6. Al-Qur'nul Karim Surah Ar-Ro'du (13) ayat 16
قُلْ مَنْ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ قُلِ اللّٰهُ ۗقُلْ اَفَاتَّخَذْتُمْ مِّنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَ لَا يَمْلِكُوْنَ لِاَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَّلَا ضَرًّاۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الْاَعْمٰى وَالْبَصِيْرُ ەۙ اَمْ هَلْ تَسْتَوِى الظُّلُمٰتُ وَالنُّوْرُ ەۚ اَمْ جَعَلُوْا لِلّٰهِ شُرَكَاۤءَ خَلَقُوْا كَخَلْقِهٖ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْۗ قُلِ اللّٰهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
Katakanlah (Muhammad), “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Katakanlah, “Allah.” Katakanlah, “Pantaskah kamu mengambil pelindung-pelindung selain Allah, padahal mereka tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi dirinya sendiri?” Katakanlah, “Samakah orang yang buta dengan yang dapat melihat? Atau samakah yang gelap dengan yang terang? Apakah mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah, “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Tuhan Yang Maha Esa, Mahaperkasa.”
7. Al-Qur'nul Karim Surah Ibrohim (14) ayat 48
يَوْمَ تُبَدَّلُ الْاَرْضُ غَيْرَ الْاَرْضِ وَالسَّمٰوٰتُ وَبَرَزُوْا لِلّٰهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ
(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di Padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa.
8. Al-Qur'nul Karim Surah An-Nahl (16) ayat 51
وَقَالَ اللّٰهُ لَا تَتَّخِذُوْٓا اِلٰهَيْنِ اثْنَيْنِۚ اِنَّمَا هُوَ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَاِيَّايَ فَارْهَبُوْنِ
Dan Allah berfirman, “Janganlah kamu menyembah dua tuhan; hanyalah Dia Tuhan Yang Maha Esa. Maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.”
9. Al-Qur'nul Karim Surah Al-Anbiya (21) ayat 108
قُلْ اِنَّمَا يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Sungguh, apa yang diwahyukan kepadaku ialah bahwa Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka apakah kamu telah berserah diri (kepada-Nya)?”
10. Al-Qur'nul Karim Surah Al-Hajj (22) ayat 34
وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ ۙ
Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),
11. Al-Qur'nul Karim Surah Al-Ankabut (29) ayat 46
وَلَا تُجَادِلُوْٓا اَهْلَ الْكِتٰبِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۖ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ وَقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِالَّذِيْٓ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَاُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَاِلٰهُنَا وَاِلٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَّنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ
Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah, ”Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan kamu satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.”
12. Al-Qur'nul Karim Surah Ash-Shoffat (37) ayat 4
اِنَّ اِلٰهَكُمْ لَوَاحِدٌۗ
sungguh, Tuhanmu benar-benar Esa.
13. Al-Qur'nul Karim Surah Shod (38) ayat 65
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ مُنْذِرٌ ۖوَّمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّا اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa,
14. Al-Qur'nul Karim Surah Az-Zumar (39) ayat 4
لَوْ اَرَادَ اللّٰهُ اَنْ يَّتَّخِذَ وَلَدًا لَّاصْطَفٰى مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۙ سُبْحٰنَهٗ ۗهُوَ اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
Sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang Dia kehendaki dari apa yang telah diciptakan-Nya. Mahasuci Dia. Dialah Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa.
15. Al-Qur'nul Karim Surah Al-Mu'min/Al-Ghofir (40) ayat 16
يَوْمَ هُمْ بَارِزُوْنَ ۚ لَا يَخْفٰى عَلَى اللّٰهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ ۗلِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ۗ لِلّٰهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ
(yaitu) pada hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tidak sesuatu pun keadaan mereka yang tersembunyi di sisi Allah. (Lalu Allah berfirman), “Milik siapakah kerajaan pada hari ini?” Milik Allah Yang Maha Esa, Maha Mengalahkan.
16. Al-Qur'nul Karim Surah Al-Fushilat (41) ayat 6
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۟ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰىٓ اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَاسْتَقِيْمُوْٓا اِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ ۗوَوَيْلٌ لِّلْمُشْرِكِيْنَۙ
Katakanlah (Muhammad), “Aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu tetaplah kamu (beribadah) kepada-Nya dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Dan celakalah bagi orang-orang yang mempersekutukan-(Nya),
- Al-Qur'nul Karim Surah Al-Isro (17) ayat 46
وَّجَعَلْنَا عَلٰى قُلُوْبِهِمْ اَكِنَّةً اَنْ يَّفْقَهُوْهُ وَفِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَقْرًاۗ وَاِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِى الْقُرْاٰنِ وَحْدَهٗ وَلَّوْا عَلٰٓى اَدْبَارِهِمْ نُفُوْرًا
Dan Kami jadikan hati mereka tertutup dan telinga mereka tersumbat, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila engkau menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Qur'an, mereka berpaling ke belakang melarikan diri (karena benci).
- Al-Qur'nul Karim Surah Az-Zumar (39) ayat 45
وَاِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَحْدَهُ اشْمَـَٔزَّتْ قُلُوْبُ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِۚ وَاِذَا ذُكِرَ الَّذِيْنَ مِنْ دُوْنِهٖٓ اِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ
Dan apabila yang disebut hanya nama Allah, kesal sekali hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat. Namun apabila nama-nama sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka menjadi bergembira.
- Al-Qur'nul Karim Surah Al-Mu'min/Al-Ghofir (40) ayat 12
ذٰلِكُمْ بِاَنَّهٗٓ اِذَا دُعِيَ اللّٰهُ وَحْدَهٗ كَفَرْتُمْۚ وَاِنْ يُّشْرَكْ بِهٖ تُؤْمِنُوْا ۗفَالْحُكْمُ لِلّٰهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيْرِ
Yang demikian itu karena sesungguhnya kamu mengingkari apabila diseru untuk menyembah Allah saja. Dan jika Allah dipersekutukan, kamu percaya. Maka keputusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Mahatinggi, Mahabesar.
Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas perbedaan kata Ahad yang bermakna esa dan kata Wahid yang bermakna satu.
Pertama, kata Wahid adalah permulaan angka atau bilangan. Seperti satu, dua, tiga dan seterusnya.
Sedangkan kata Ahad adalah bilangan yang terhenti, yaitu esa, tunggal dan tak ada bandingannya.
ولم يكن له كفوا أحد
Kedua, kata Wahid memiliki bentuk kata muannats (bentuk kata perempuan), yaitu: Wahidah (واحدة).
Sedangkan kata Ahad tidak ada bentuk untuk perempuan. Dan ini dinamakan Maqomut Tasyrif (Pangkat kemuliaan).
Ketiga, kata Wahid bisa digunakan sebagai sifat untuk siapa dan apa saja. Seperti Rojulun Wahid (orang laki-laki satu), Kitabun Wahid (satu kitab).
رجل واحد
كتاب واحد
Sedangkan kata Ahad adalah sifat yang hanya khusus untuk ALLOH semata. Seperti contoh:
قل هو الله أحد
Kita tidak diperbolehkan menggunakan kata-kata Rojulun Ahad, kata ini adalah kata yang salah.
Keempat, kata Wahid bisa terbagi menjadi beberapa bagian, seperti satu perempat, satu pertiga dan seterusnya.
Sedangkan kata Ahad tidak bisa terbagi. Ahad berarti tunggal.
Kelima, kata Wahid tidak meniadakan secara sempurna. Seperti contoh:
ما رأيت واحدا
“Saya tidak melihat satu orang”.
Kalimat itu memiliki makna: tidak melihat satu orang. Tetapi memiliki kemungkinan melihat dua orang, tiga orang atau lebih.
Sedangkan bila menggunakan kata Ahad seperti contoh:
ما رأيت أحدا
“Saya tidak melihat seseorang”.
Maka kalimat itu memiliki makna tidak melihat seorang pun, baik satu, dua, tiga maupun lebih.
Keenam, kata Wahid bisa digunakan untuk makhluk berakal maupun untuk yang lain. Seperti:
رجل واحد
جمل واحد
Rojulun Wahid (Laki-laki satu).
Jamalun Wahid (Onta satu).
Sedangkan Ahad khusus untuk ALLAH saja. Atau bahasa nahwunya khusus untuk yang berakal.
Ketujuh, kata Wahid berbentuk isim Fa’il, sedangkan kata Ahad berbentuk isim sifat musyabbahah. Seperti diketahui bahwa isim sifat musyabbahah lebih kuat daripada isim Fa’il.
Kedelapan, kata Wahid dimulai dengan huruf Wawu. Huruf Wawu adalah huruf Layn yang lemah.
Sedangkan kata Ahad dimulai dengan huruf Hamzah Qotho’. Hamzah adalah huruf yang kuat.
فَصْلٌ فِي زِيَادَةِ هَمْزَة الْوَصْلِ
لِلْوَصْلِ هَمْزٌ سَابِقٌ لاَ يَثْبُتُ *** إِلاَّ إِذَا ابْتُدِى بِهِ كَاسْتَثْبِتُوَا
Untuk mewashalkan (bacaan) diperlukan huruf hamzah yang letak nya mendahului lafaz yang bersangkutan; dan tidak bersifat te kecuali apabila diletakkan pada permulaar. lafaz, seperti yang te dapat pada lafaz istatsbituu (bersabarlah kalian
وَهْوَ لِفِعْلٍ مَاضٍ احْتَوَى عَلَى *** أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعَةٍ نَحْوُ انْجَلَى
Hamzah washal bagi fi'il madhi yang mengandung lebih dari empat huruf seperti lafaz injalaa.
وَالأَمْرِ وَالْمَصْدَرِ مِنْهُ وَكَذَا *** أَمْرُ الْثُّلاَثِي كَاخْشَ وَامْضِ وَانْفذَا
Dan fi'il amar serta masdhar-nya, demikian pula bentuk amar dari fi'il tsulatsi, seperti ikhsya, imdhi, dan unfudz
وَفِي اسْمٍ اسْتٍ ابْنٍ ابْنُمٍ سُمِعْ *** وَاثْنَيْن وَامْرِىء وَتَأْنِيْثٍ تَبِعْ
Dalam lafaz ismin, istin, ibnin, dan ibnumin pernah didengar. Dalam lafaz itsnaini serta imri-in bentuk ta-nits-nya pun diikutkan pula.
وَأَيْمُنُ هَمْزُ أَلْ كَذَا وَيُبْدَلُ *** مَدًّا فِي الاسْتِفْهَامِ أَوْ يُسَهَّلُ
Dalam lafaz aymunun, demikian pula hamzahnya al, diganti menjadi huruf madd dalam istifham atau dibaca tashil
Beberapa pelajaran atau petunjuk yang dapat kita ringkas dari dua nama ini, antara lain:
Tidak ada yang menyamai dan menandingi Allâh, serta tidak ada yang setara dengan-Nya dalam segala segi. Allâh Maha Suci dan Maha Tinggi, tidak ada yang menyamai-Nya dan tidak ada pula yang manandingi-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :
Al-Qur'nul Karim Surah Maryam (19) ayat 65
رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهٖۗ هَلْ تَعْلَمُ لَهٗ سَمِيًّا
(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguhhatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?
Juga berfirman dalam 
Al-Qur'nul Karim Surah Al-Ikhlash (112) ayat 4,
وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ
Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.”
Begitu pula dalam 
Al-Qur'nul Karim Surah Asy-Syuro (42) ayat 11,
فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّمِنَ الْاَنْعَامِ اَزْوَاجًاۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِۗ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.
Batilnya pemahaman takyîf yaitu, usaha seseorang dengan akalnya yang lemah untuk mengetahui bagaimana sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla . Usaha semacam itu tidak mungkin bisa terwujud, hanya sia-sia belaka. Karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satu-Nya yang memiliki sifat sempurna, agung dan mulia, maka tidak ada satu dzatpun yang bisa menjadi serikat-Nya, tidak ada yang dapat menyerupai-Nya. Tidak ada satu akalpun yang dapat mengetahui hakikat Allâh Azza wa Jalla , bahkan kesempurnaan apapun yang terlintas dalam benak makhluk, maka Allâh lebih besar dan lebih agung dari itu semua.
Penetapan seluruh sifat Allâh yang sempurna,tidak ada satu sifat yang menunjukkan kemuliaan dan keindahan melainkan sifat tersebut telah dimiliki Allâh Azza wa Jalla , karna hanya Allâhlah yang memiliki sifat sempurna secara mutlaq dan tidak ada kekurangan sedikitpun pada-Nya.
Bahwa semua sifat yang Allâh Azza wa Jalla miliki, merupakan sifat-sifat paling agung yang berada pada puncak keagungan. Allâh Azza wa Jalla berfirman dalam 
Al-Qur'nul Karim Surah An-Najm (53) ayat 42
وَاَنَّ اِلٰى رَبِّكَ الْمُنْتَهٰىۙ
dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya (segala sesuatu),
Maka bagi-Nyalah pendengaran paling sempurna dan penglihatan paling sempurna. Semua sifat-Nya adalah sifat paling sempurna. Sebagaimana Allâh berfirman dalam 
Al-Qur'nul Karim Surah An-Nahl (16) ayat 60
لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِۚ وَلِلّٰهِ الْمَثَلُ الْاَعْلٰىۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Bagi orang-orang yang tidak beriman pada (kehidupan) akhirat, (mempunyai) sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat Yang Mahatinggi. Dan Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana.
Mahasucinya Allâh dari segala kekurangan dan aib. Karena itu merupakan sifat para makhluk, sementara Allâh adalah Dzat yang memiliki sifat sempurna, agung dan mulia tanpa ada satu makhlukpun yang semisal dengan-Nya, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jallaetika menyatakan kesucian diri-Nya dari sifat memperanak dalam 
Al-Qur'nul Karim Surah Az-Zumar (39) ayat 45
وَاِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَحْدَهُ اشْمَـَٔزَّتْ قُلُوْبُ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِۚ وَاِذَا ذُكِرَ الَّذِيْنَ مِنْ دُوْنِهٖٓ اِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ
Dan apabila yang disebut hanya nama Allah, kesal sekali hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat. Namun apabila nama-nama sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka menjadi bergembira.
Wajibnya berikrar ( menyatakan) bahwa Allâh Azza wa Jalla memiliki kesempurnaan sifat yang mutlak, baik dalam Dzat, sifat-sifat maupun perbuatan-perbuatan-Nya. Dan keyakinan itu hendaknya tertanam dalam hati. Ini disebut Tauhid Ilmi (berkaitan dengan pemahaman).
Wajibnya meng-Esakan Allâh dan ikhlas dalam beribadah, serta meyakini bahwa Allâh Azza wa Jalla satu-satunya Pencipta dan Pemberi rizki yang dapat memberi maupun menahannya, dapat merendahkan serta mengangkat derajat hamba-Nya, dan dapat menghidupkan serta mematikan. Oleh karna itu wajib meng-Esakan Allâh Azza wa Jalla dalam semua sisi peribadatan. Ini di sebut Tauhid ‘Amali (berkaitan dengan pengamalan).
Ini merupakan bantahan terhadap orang-orang musyrik dan semua aliran sesat yang sama sekali tidak menghormati dan mengagungkan Allâh Azza wa Jalla dengan penghormatan dan pengagungan yang semestinya. Tidak pula mengakui ke-Esaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , sehingga mereka membuat sekutu-sekutu bagi Allâh Azza wa Jalla , membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan berburuk sangka kepada Allâh, mencela serta meremehkan Rububiyah Allâh dan melakukan pelanggaran terhadap tujuan diciptakannya manusia yaitu mentauhidkan (mengesakan) Allâh, tunduk dan patuh dengan melaksanakan semua peribadatan kepada Allâh. Mereka kesal dan mendongkol bila disebut kalimat TAUHID, jiwa mereka jauh dari kebenaran dan petunjuk Allâh Azza wa Jalla . Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman 
dalam Al-Qur'nul Karim Surah Az-Zumar (39) ayat 45
وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ ۖ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
Dan apabila hanya nama Allâh saja disebut, kesAllâh hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allâh yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.
Juga berfirman dalam 
Al-Qur'nul Karim Surah Al-Isro (17) ayat 46
وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ
Dan apabila kamu menyebut Rabbmu saja dalam al-Qur’ân, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya.
Juga dalam 
Al-Qur'nul Karim Surah Al-Mu'min/Al-Ghofir (40) ayat 12
ذَٰلِكُمْ بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ ۖ وَإِنْ يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا ۚ فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ
Yang demikian itu karena kamu kafir apabila hanya Allâh saja yang diibadahi. Tetapi kamu percaya apabila Allâh dipersekutukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allâh Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.
Nahwu Sorof lengkap qowaidul i'lal 20
Kaidah I'lal 7, Lafadz يَعِدُ Asalnya Lafadz يَضَعُ
اِذَا وَقَعَتِ الْوَاوُ بَيْنَ الْفَتْحَةِ وَالْكَسْرَةِ الْمُحَقَّقَةِ وَقَبْلَهَا حَرْفُ الْمُضَارَعَةِ، تُحْذَفُ، نَحْوُ يَعِدُ اَصْلُهُ يَوْعِدُ
Tatkala ada huruf wawu jatuh di antara harakat fathah dan harakat kasrah yang nyata dan huruf sebelumnya adalah huruf mudhara'ah, maka huruf wawu itu dibuang, contoh "يَعِدُ" asalnya "يَوْعِدُ".
Dari kaidah tersebut, maka kita boleh menyimpulkan bahwa :
1.Ada huruf wawu yang jatuh di antara 2 huruf (satu huruf berharakat fathah dan satunya lagi berharakat kasrah),
di mana kedua harakat itu nyata.
2.Huruf sebelum wawu adalah huruf mudhoro'ah
Maka huruf wawu tersebut harus dibuang.
Huruf mudlara'ah adalah huruf-huruf yang menjadi huruf awal disetiap fi'il mudhorik.
Ada empat huruf mudhoro'ah yang terkumpul dalam kalimat "نَأْتِيْ" yaitu ن (nun), أ (alif), ت (ta'), dan ي (ya').
I'lal Lafadz يَعِدُ .
Lafadz يَعِدُ asalnya adalah يَوْعِدُ mengikuti wazan يَفْعِلُ.
Berdasarkan kaidah 7 di atas, pada lafadz يَوْعِدُ, terdapat huruf yang terjatuh di antara 2 huruf yang berharakat fathah (ya') dan kasroh (ain), di mana huruf sebelum wawu adalah salah satu huruf mudhoro'ah yaitu ي, maka huruf wawu tersebut harus dibuang, sehingga berubah menjadi lafadz يَعِدُ.
Jadi :
Lafadz Asli يَوْعِدُ
Lafadz I'lal (Hasil)يَعِدُ
I'lal Lafadz يَضَعُ
Lafadz يَضَعُ asalnya adalah يَوْضِعُ mengikuti wazan يَفْعِلُ.
Berdasarkan kaidah 7 di atas, pada lafadz يَوْضِعُ, terdapat huruf yang terjatuh di antara 2 huruf yang berharakat fathah (ي) dan kasroh (ض), di mana huruf sebelum wawu adalah salah satu huruf mudhoro'ah yaitu ي, maka huruf wawu tersebut harus dibuang, sehingga berubah menjadi lafadz يَضِعُ.
Pada lafadz يَضِعُ, huruf ض harus difathah karena huruf tersebut merupakan salah satu huruf ithbaq dan huruf sesudahnya adalah huruf khalq yaitu ain, sehingga menjadi lafadz يَضَعُ.
Jadi :
Lafadz Asli يَوْضِعُ
Perubahan يَضِعُ
Lafadz I'lal (Hasil)يَضَعُ
Huruf ithbaq ada 4 yaitu ص, ض, ط dan ظ
Huruf khalq ada 6 yaitu أ ,ه, ح, ع , غ , dan خ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar