Sabtu, 11 Januari 2025

I'LAL


Kaidah I’lal Ke 1 » Wawu/Ya’ diganti Alif
إذَا تَحَرَّكَتِ الْوَاوُ وَالْيَاءُ بَعْدَ فَتْحَةٍ مُتَّصِلَةٍ فِيْ كَلِمَتَيْهِمَا أُبْدِلَتَا آلِفًا مِثْلُ صَانَ أَصْلُهُ صَوَنَ وَبَاعَ أَصْلُهُ بَيَعَ.
Apabilah ada Wawu atau Yya’ berharkah, jatuh sesudah harkah Fathah dalam satu kalimah, maka Wawu atau Ya’ tsb harus diganti dengan Alif seperti contoh صَانَ asalnya صَوَنَ , dan بَاعَ asalnya بَيَعَ .
Praktek I’lal :
صَانَ asalnya صَوَنَ ikut pada wazan فَعَلَ. Wawu diganti Alif karena ia berharkah dan sebelumnya ada Huruf berharkah Fathah, maka menjadi صَانَ.
بَاعَ asalnya بَيَعَ ikut pada wazan فَعَلَ. Ya’ diganti Alif karena ia berharkah dan sebelumnya ada Huruf berharkah Fathah, maka menjadi بَاعَ.
غَزَا asalnya غَزَوَ ikut pada wazan فَعَلَ. Wawu diganti Alif karena ia berharkah dan sebelumnya ada Huruf berharkah Fathah, maka menjadi غزا.
رَمَىْ asalnya رَمَيَ ikut pada wazan فَعَلَ. Ya’ diganti Alif karena ia berharkah dan sebelumnya ada Huruf berharkah Fathah, maka menjadi رَمَيَ. (*Alif pada lafazh رَمَىْ dinamakan Alif Layyinah).
Perhatian:Kaidah ini berlaku pada Wau atau Ya’ dengan Harkah asli. Apabila harkah keduanya bukan asli atau baru, maka tidak boleh dirubah. Contoh دَعَوُاالْقَوْمَ .
Apabila setelah wawu atau ya’ itu ada huruf mati/sukun, maka diklarifikasikan sbb:Jika Wawu atau Ya’ tsb bukan pada posisi Lam Fi’il, maka tidak boleh di-I’lal, karena dihukumi seperti Huruf Shahih. Contoh: بَيَانٌ, طَوِيْلٌ, خَوَرْنَقٌ.
Jika Wawu dan Ya’ tsb berada pada posisi Lam Fi’il, maka tetap berlaku Kaidah I’lal ini. Contoh يَخْشَوْنَ asalnya يَخْشَيُوْنَ . Namun disyaratkan huruf yg mati/sukun setelah Wawu dan Ya’ tsb bukan huruf Alif dan huruf Ya’ tasydid, maka yang demikian juga tidak boleh di-I’lal. Contoh: رَمَيَا, عَلَوِيٌّ, غَزَوَا.

Kaidah I’lal ke 2 » Syakal/Harakat/Tasykil/Tanda baca huruf Wau/Ya’ Bina’ Ajwaf, dipindah pada huruf sebelumnya.
إِذَا وَقَعَتِ الْوَاوُ وَالْيَاءُ عَيْنًا مُتَحَرِّكَةً مِنْ أَجْوَفٍ وَكَانَ مَا قَبْلَهُمَا سَاكِنًا صَحِيْحًا نُقِلَتْ حَرْكَتُهُمَا إلىَ مَا قَبْلَهَا, نَحْوُ يَقُوْمُ أَصْلُهُ يَقْوُمُ, يَبِيْعُ أَصْلُهُ يَبْيِعُ.
Apabila wau atau ya’ berharokat berada pada ‘ain fi’il Bina’ Ajwaf dan huruf sebelumnya terdiri dari huruf Shahih yang mati/sukun, maka harakat wawu atau ya’ tsb harus dipindah pada huruf sebelumnya. Contoh: يَقُوْمُ asalnya يَقْوُمُ dan يَبِيْعُ asalnya يَبْيِعُ.
Praktek I’lal:
يَقُوْمُ
يَقُوْمُ asalnya يَقْوُمُ ikut pada wazan يَفْعُلُ . harkah wawu dipindah pada huruf sebelumnya, karena wawu-nya berharkah dan sebelumnya ada huruf shahih yg mati/sukun, untuk menolak beratnya mengucapkannya, maka menjadiيَقُوْمُ
يَبِيْعُ
يَبِيْعُ asalnya يَبْيِعُ ikut pada wazan يَفْعِلُ harkah Ya’ dipindah pada huruf sebelumnya, karena Ya’-nya berharkah dan sebelumnya ada huruf shahih yg mati/sukun, untuk menolak beratnya mengucapkannya, maka menjadi يَبِيْعُ
Perhatian:
Perpindahan Syakal/Harakat/Tasykil/Tanda baca Wau atau Ya’ tersebut dalam Kaidah ini, tidak berlaku apabila setelah Wawu atau Ya’ terdapat Huruf yang di-tasydid-kan. Contoh:
Kaidah I’lal ke 4 » Wau diganti Ya’ karena berkumpul dalam satu kalimah dan yg pertama sukun
إِذَا اجْتَمَعَتِ الْوَاوُ وَالْيَاءُ فِيْ كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ وَسَبَقَتْ اِحْدَاهُمَا بِالسُّكُوْنِ اُبْدِلَتِ الْوَاوُ يَاءً وَاُدْغِمَتِ الْيَاءُ اْلأُوْلَى فِي الثَّانِيَّةِ نَحْوُ مَيِّتٌ أَصْلُهُ مَيْوِتٌ وَمَرْمِيٌّ أَصْلُهُ مَرْمُوْيٌ.
Apabila wau dan ya’ berkumpul dalam satu kalimah dan salah satunya didahului dengan sukun, maka wau diganti ya’. Kemudian ya’ yang pertama di-idgham-kan pada ya’ yang kedua. Contoh lafadz مَيِّتٌ asalnya adalah مَيْوِتٌ dan مَرْمِيٌّ asalanya adalah مَرْمُوْيٌ
Praktek I’lal:
مَيِّتٌ
مَيِّتٌ asalnya مَيْوِتٌ mengikuti wazan فَيْعِلٌ . wau diganti ya’ karena berkumpul dalam satu kalimah dan salah satunya didahului dengan sukun, maka menjadi مَيْيِتٌ. Kemudian ya’ yang pertama di-idghamkan pada ya’ yang kedua karena satu jenis, maka menjadi مَيِّتٌ
مَرْمِيٌّ
مَرْمِيٌّ asalnya مَرْمُوْيٌ mengikuti wazan مَفْعُوْلٌ . wau diganti ya’ karena berkumpul dalam satu kalimah dan salah satunya didahului dengan sukun, maka menjadi مَرْمُيْيٌ. Kemudian ya’ yang pertama di-idghamkan pada ya’ yang kedua karena satu jenis, maka menjadi مَرْمِيٌّKaidah I’lal ke 5 » Harakah Dhammah wau atau ya’ di akhir kalimah diganti Sukun
إِذَا تَطَرَّفَتِ الْوَاوُ وَالْيَاءُ وَكَانَتَا مَضْمُوْمَةً اُسْكِنَتَا نَحْوُ يَغْزُوْا أَصْلُهُ يَغْزُوُ وَيَرْمِيْ أَصْلُهُ يَرْمِيُ
Apabila Wau atau Ya’ menempati ujung akhir kalimah, dan ber-harakah dhammah, maka disukunkan. Contoh: يَغْزُوْا asalnya يَغْزُوُ dan يَرْمِيْ asalnya يَرْمِيُ
Praktek I’lal:
يَغْزُوْ
يَغْزُوْ asalnya يَغْزُوُ mengikuti wazan يَفْعُلُ . Wau di ujung akhir kalimah ber-harakah dhammah, maka disukunkan menjadi يَغْزُوْ.
يَرْمِيْ
يَرْمِيْ asalnya يَرْمِيُ mengikuti wazan يَفْعُلُ . Ya’ di ujung akhir kalimah ber-harkah dhammah, maka disukunkan menjadi يَرْمِيْ.
Perhatian:
غَازٍ
غَازٍ asalnya غَازِوٌ mengikuti wazan فَاعِلٌ . Wau diganti Ya’, karena jatuh sesudah harakah kasrah, maka menjadi غَازِيٌ, kemudan Ya’ disukunkan karena beratnya harkah dhammah atas Ya’ maka menjadi غَازٍيْ, kemudian Ya’ dibuang untuk menolak bertemunya dua mati yaitu Ya’ dan Tanwin, maka menjadi غَازٍ
سَارٍ
سَارٍ asalnya سَارِيٌ mengikuti wazan فَاعِلٌ . Ya’ disukunkan karena beratnya harakah dhammah atas Ya’ maka menjadi سَارٍيْ, kemudian Ya’ dibuang untuk menolak bertemunya dua mati yaitu Ya’ dan Tanwin, maka menjadi سَارٍ
اَوَاقٍ
اَوَاقٍ asalnya وَوَاقِيُ mengikuti wazan فَوَاعِلُ wau pada fa’ fi’il diganti Hamzah, karena kedua wau berkumpul dalam satu kalimah, maka menjadi اَوَاقِيْ. Kemudian Ya’ dibuang untuk meringankannya, maka menjadi اَوَاقِ. Dan didatangkanlah tanwin sebagai pengganti dari Ya’ yang dibuang, maka menjadi اَوَاقٍ.
Kaidah I’lal ke 6 » Wau akhir kalimah empat huruf atau lebih, diganti Ya’
اِذَا وَقَعَتِ الْوَاوُ رَابِعَةً فَصَاعِدًا فِي الطَّرْفِ وَلَمْ يَكُنْ مَا قَبْلَهَا مَضْمُوْمًا أُبْدِلَتِ الْوَاوُ يَاءً نَحْوُ يُزَكِّيْ أَصْلُهُ يُزَكِّوُ وَ يُعَاطِيْ أَصْلُهُ يُعَاطِوُ
Apabila wau menempati ujung akhir kalimah empat huruf atau lebih, dan sebelum wau tidak ada huruf yang didhammahkan, maka wau tsb diganti ya’. Contoh: يُزَكِّيْ asalnya يُزَكِّوُ dan يُعَاطِيْ asalnya يُعَاطِوُ.
Praktek I’lal:
يُزَكِّيْ
يُزَكِّيْ asalnya يُزَكِّوُ mengikuti wazan يُفَعِّلُ wau diganti ya’, karena berada pada akhir kalimah empat huruf dan sebelumnya bukan huruf yang didhammahkan, maka menjadi يُزَكِّيْ
يُعَاطِيْ
يُعَاطِيْ asalnya يُعَاطِوُ mengikuti wazan يُفَاعِلُ wau diganti ya’, karena berada pada akhir kalimah empat huruf dan sebelumnya bukan huruf yang didhammahkan, maka menjadi يُعَاطِيْ
Perhatian:
مَعْطًى
مَعْطًى asalnya مُعْطَوًا ikut wazan مًفْعَلاً . wau diganti ya’, karena berada pada akhir kalimah empat huruf dan sebelumnya bukan huruf yang didhammahkan, maka menjadi مُعْطَيًاkemudian ya’ diganti alif karena berharkah jatuh sesudah harkah fathah, maka menjadiمُعْطًىاْ kemudian alif dibuang untuk menolak bertemunya dua mati yaitu Alif dan Tanwin, maka menjadi مَعْطًى

Kaidah I’lal ke 7 » Membuang Wau setelah Huruf Mudhara’ah diantara Fathah dan Dhammah
اِذَا وَقَعَتِ الْوَاوُ بَيْنَ الْفَتْحَةِ وَالْكَسْرَةِ الْمُحَقَّقَةِ وَقَبْلَهَا حَرْفُ الْمُضَارَعَةِ تُحْذَفْ نَحْوُ يَعِدُ أَصْلُهُ يَوْعِدُ و يَئِدُ أَصْلُهُ يَوْئِدُ
Apabila wau ada diantara harkah fathah dan kasrah nyata, dan sebelumnya ada huruf mudhara’ah, maka wau tersebut dibuang. Contoh: يَعِدُ asalnya يَوْعِدُ dan يَئِدُ asalnya يَوْئِدُ
Praktek I’lal:
يَعِدُ
يَعِدُ asalnya يَوْعِدُ mengikuti wazan يَفَعِلُ . wau dibuang karena ada diantara fathah dan kasrah nyata dan sebelumnya ada huruf mudhara’ah, maka menjadi يَعِدُ
يَضَعُ
يَضَعُ asalnya يَوْضِعُ mengikuti wazan يَفَعِلُ . wau dibuang karena ada diantara fathah dan kasrah nyata dan sebelumnya ada huruf mudhara’ah, maka menjadi يَضِعُ. Kemudian Dhad-nya difathahkan untuk meringankan huruf ithbaq juga huruf Halaq yaitu ‘Ain, maka menjadi يَضَعُ
Perhatian:Huruf Mudhara’ah : أ – ن – ي – ت
Huruf Halaq : أ – ح – خ – ع – غ – هـ
Huruf Ithbaq : ص – ض – ط – ظ

Kaidah I’lal ke 8 » Wau setelah harkah kasrah diganti Ya’
إذَا وَقَعَتِ الْوَاوُ بَعْدَ كَسْرَة فِيْ اسْمٍ أوْ فِعْلٍ أُبْدِلَتْ يَاءً نَحْوُ يُزَكِّيْ أَصْلُهُ يُزَكِّوُ وَ غَازٍ أَصْلُهُ غَازِوٌ
Bilmana ada Wau jatuh setelah harkah Kasrah dalam Kalimah Isim atau Kalimah Fi’il, maka Wau tersebut harus diganti Ya’. Contoh: يُزَكِّيْ asalnya يُزَكِّوُ dan غَازٍ asalnya غَازِوٌ
Praktek I’lal:
يُزَكِّيْ
يُزَكِّيْ asalnya يُزَكِّوُ ikut wazan يُفَعِّلُ , wau diganti Ya’ karena jatuh sesudah harkah kasrah, maka menjadi يُزَكِّيْ
غَازِ
غَازِ asalnya غَازِوٌ (praktek I’lalnya telah disebut pada Kaidah I’lal ke 5)
Kaidah I’lal ke 9 » Huruf Illah Wau/Ya’ dibuang untuk menolak bertemu-nya dua huruf mati
إذَا لَقِيَتِ الْوَاوُ وَالْيَاءُ السَّاكِنَتَانِ بحَرْفٍ سَاكِنٍ آخَرَ حُذِفَتَا بَعْدَ اَنْ نُقِلَتْ حَرْكَتُهُمَا اِلَى مَا قَبْلَهُمَا نَحْوُ صُنْ أَصْلُهُ أُصْوُنْ وَ سِرْ أَصْلُهُ اِسْيِرْ.
Bilamana ada Wau atau Ya’ sukun, bertemu dengan husuf sukun lainnya, maka Wau tau Ya’ tersebut dibuang, ini setelah memindahkan harakah keduanya (Wau atau Ya’) kepada huruf sebelumnya (lihat kaidah I’lal ke 2). Contoh: صُنْ asalnya أُصْوُنْ dan سِرْ asalnya اِسْيِرْ
Praktek I’lal:
صُنْ
صُنْ asalnya أُصْوُنْ mengikuti wazan اُفْعُلْ, harkah Wau dipindah ke huruf sebelumnya, karena Wau berharkah dan sebelumnya ada huruf shahih mati/sukun (lihat Kaidah I’lal ke 2) untuk menolak beratnya mengucapkan, maka menjadi اُصُوْنْ, maka Wau dibuang untuk menolak bertemunya dua mati/sukun, maka menjadi اُصُنْ, kemudian Hamzah Washal-nya dibuang karena tidak dibutuhkan lagi, maka menjadi صُنْ
سِرْ
سِرْ asalnya اِسْيِرْ mengikuti wazan اِفْعِلْ, harkah Ya’ dipindah ke huruf sebelumnya, karena Ya’ berharkah dan sebelumnya ada huruf shahih mati/sukun (lihat Kaidah I’lal ke 2) untuk menolak beratnya mengucapkan, maka menjadi اِسِيْرْ, maka Ya’ dibuang untuk menolak bertemunya dua mati/sukun, maka menjadi اِسِرْ, kemudian Hamzah Washal-nya dibuang karena tidak dibutuhkan lagi, maka menjadi سِرْ

Kaidah I’lal ke 10 » Dua huruf sejenis/hampir sama makhraj-nya harus di-idghamkan
ِاِذَا اجْتَمَعَ فِيْ كَلِمَةٍ حَرْفَانِ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ أَوْ مُتَقَارِبَانِ فِي الْمَخْرَجِ يُدْغِم اْلأَوَّلُ فِي الثَّانِيْ بَعْدَ جَعْلِ الْمُتَقَارِبَيْن مِثْلَ الثَّانِيْ لِثَقْلِ الْمُكَرَّرِ نَحْوُ مَدَّ أصْلُهُ مَدَدَ وَ مُدِّ أَصْلُهُ اُمْدُدْ وَ اتَّصَلَ أَصْلُهُ اِوْتَصَلَ
Bilamana ada dua huruf sejenis atau hampir sama makhrajnya berkumpul dalam satu kalimah, maka huruf yang pertama harus di-idghamkan pada huruf yang kedua,–ini setelah menjadikan huruf yang hampir sama makhrajnya serupa dengan huruf yg kedua (lihat kaidah i’lal ke 18 insyaallah)–, karena beratnya pengulangan/memilah-milahnya. contoh مَدَّ asalnya مَدَدَ dan مُدِّ asalnya اُمْدُدْ, dan اتَّصَلَ asalnya اِوْتَصَلَ.
Praktek I’lal:
مَدَّ
مَدَّ asalnya مَدَدَ ikut pada wazan فَعَلَ, huruf dal yang pertama disukunkan untuk melaksanakan syarat Idgham, maka menjadi مَدْدَ, kemudian huruf Dal yang pertama di-idgamkan pada huruf Dal yang kedua, maka menjadi مَدَّ
مُدِّ/مُدَّ/مُدُّ
مُدِّ/مُدَّ/مُدُّ asalnya اُمْدُدْ mengikuti wazan اُفْعُلْ, harkah Dal yang pertama dipindah pada huruf sebelumnya untuk melaksanakan syarat Idgham, maka menjadi اُمُدْدْ, bertemu dua huruf mati/sukun yaitu kedua Dal, maka Dal yang kedua diberi harkah untuk menolak bertemunya dua mati/sukun, baik diberi harkah kasrah karena kaidah; “apabilah ada huruf mati mau diberi harkah, berilah harkah kasrah”. atau diberi harkah fathah karena ia paling ringannya harkah. atau diberi harkah dhammah, karena mengikuti harkah ‘Ain fi’il pada fi’il mudhari’nya, maka menjadi اُمُدْدِ/اُمُدْدَ/اُمُدْدُ, kemudian Dal yang pertama di-idgham-kan pada Dal yg kedua maka menjadi اُمُدِّ/اُمُدَّ/اُمُدُّ, kemudian Hamzah Washal-nya dibuang karena sudah tidak dibutuhkan lagi, maka menjadi مُدِّ/مُدَّ/مُدُّ.
اتَّصَلَ
Praktek I’lal untuk lafazh اتَّصَلَ ada pada Kaidah I’lal ke 18,
Kaidah I’lal ke 11 » Dua Hamzah berkumpul yang kedua diganti huruf yg sesuai dengan Harakah sebelumnya
الْهَمْزَتَانِ اِذَا الْتَقَتَا فِيْ كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ ثَانِيَتُهُمَا سَاكِنَةٌ وَجَبَ اِبْدَالُ الثّانِيَةِ بِحَرْفٍ نَاسَبَ اِلَى حَرْكَةِ اْلأُوْلَىْ نَحْوُ آمَنَ اَصْلُهُ أَأْمَنَ وَ أُوْمُلْ اَصْلُهُ أُؤْمُلْ وَ اِيْدِمْ اَصْلُهُ إِئْدِمْ.
Bilamana terdapat dua huruf Hamzah berkumpul sejajar dalam satu kalimah, yang nomor dua sukun, maka huruf hamzah ini harus diganti dengan huruf yang sesuai dengan harakah Hamzah yang pertama. contoh آمن asalnya أأمن dan أومل asalnya أؤمل.
Praktek I’lal:
آمَنَ
َآمَن asalnya أَأْمَنَ mengikuti wazan أَفْعَلَ; berkumpul dua Hamzah dalam satu kalimah dan yang kedua sukun, maka hamzah yang kedua tsb diganti alif, karena ia sukun dan sebelumnya ber-harkah fathah. maka menjadi آمَنَ
أُوْمُلْ
ْأُوْمُل asalnya أُؤْمُل mengikuti wazan أُفْعُلْ; berkumpul dua Hamzah dalam satu kalimah dan yang kedua sukun, maka hamzah yang kedua tsb diganti wau, karena ia sukun dan sebelumnya ber-harkah dhammah. maka menjadi أُوْمُل
اِيْدِمْ
ْاِيْدِم asalnya إئْدِم mengikuti wazan اِفْعِلْ berkumpul dua Hamzah dalam satu kalimah dan yang kedua sukun, maka hamzah yang kedua tsb diganti Ya’, karena ia sukun dan sebelumnya ber-harkah kasrah. maka menjadi اِيْدِم.
خُذْ
خُذْ asalnya أُأْخُذ mengikuti wazan أُفْعُلْ; berkumpul dua Hamzah dalam satu kalimah dan yang kedua sukun, maka hamzah yang kedua tsb diganti wau, karena ia sukun dan sebelumnya ber-harkah dhammah. maka menjadi أُوْخُذ kemudian wau-nya dibuang untuk meringankan ucapan, maka menjadai أُخُذ selanjutnya hamzah-nya dibuang karena sudah tidak dibutuhkan lagi, maka menjadi خُذْ
Perhatian :
Wau pada lafazh أُوْخُذ dibuang untuk meringankan ucapan, sedangkan pada lafazh أُوْمُل cukup tanpa membuang wau, karena menjaga dari keserupaan dengan fi’il amar-nya lafazh مَالَ – يَمُوْلُ – مُلْ
Isim Maf’ul dari Fi’il Mu’tal ‘Ain, Wau Maf’ulnya dibuang menurut Imam Sibawaihi » Kaidah I’lal ke 15
إِنَّ اسْمَ الْمَفْعُوْلِ إذَا كَانََََ مِنْ مُعْتَلِّ الْعَيْنِ وَجَبَ حَذْفُ وَاوٍ الْمَفْعُوْلِ مِنْهُ عِنْدَ سِيْبَوَيْهِ نَحْوُ مَصُوْنٌ أَصْلُهُ مَصْوُوْنٌ وَ مَسِيْرٌ أَصْلُهُ مَسْيُوْرٌ
Sesungguhnya Isim Maf’ul bilamana ia terbuat dari Fi’il Mu’tal ‘Ain (Bina’ Ajwaf) maka wajib membuang wau maf’ulnya menurut Imam Syibawaihi (menurut Imam lain yg dibuang adalah Ain Fi’ilnya). contoh: مَصُوْنٌ asalnya مَصْوُوْنٌ dan مَسِيْرٌ asalnya مَسْيُوْرٌ
Praktek I’lal:
مَصُوْنٌ
مَصُوْنٌ asalnya مَصْوُوْنٌ mengikuti wazan مَفْعُوْلٌ harkah wau dipindah pada huruf sebelumnya karena ia berharkah dan sebelum ada huruf shahih mati untuk menolak berat maka menjadi مَصُوْوْنٌ (lihat i’lal ke 2), kemudian bertemu dua huruf mati (dua wau) untuk menolak beratnya mengucapkan maka wau maf’ulnya dibuang (menurut Imam Sibawaehi) maka menjadi مَصُوْنٌ .
مَسِيْرٌ
مَسِيْرٌ asalnya مَسْيُوْرٌ mengikuti wazan مَفْعُوْلٌ harkah Ya’ dipindah pada huruf sebelumnya karena ia berharkah dan sebelum ada huruf shahih mati untuk menolak berat maka menjadi مَسُيْوْرٌ (lihat i’lal ke 2), kemudian bertemu dua huruf mati (ya’ dan wau) untuk menolak beratnya mengucapkan maka wau maf’ulnya dibuang (menurut Imam Sibawaehi)maka menjadi مَسِيْرٌ
Qawaidul I’lal ke 17 » Huruf Ta’ pada wazan افتعل diganti Dal
إِذَا كَانَ فَاءُ اِفْتَعَلَ دَالاً أوْ ذَالاً أوْ زَايًا قُلِبَتْ تَاؤُهُ دَالاً لِعُسْرِالنُّطْقِ بِهَا بَعْدَ هَذِهِ الْحُرُوْفِ وَإنَّمَا تُقْلَبُ التَّاءُ بِالدَّالِ لِقُرْبِهِمَا مَخْرَجًا نَحْوُ اِدَّرَأَ أَصْلُهُ اِدْتَرَأَ وَ اِذَّكَرَ أَصْلُهُ اِذْتَكَرَ وَ اِزْدَجَرَ أَصْلُهُ اِزْتَجَرَ.
Bilamana Fa’ Fi’il wazan berupa huruf Dal, atau Dzal, atau Zay, maka huruf Ta’ (Ta’ zaidah wazan اِفْتَعَلَ ) yang jatuh sesudah huruf-huruf tersebut harus diganti Dal, demi mudahnya mengucapkannya. Digantinya Ta’ dengan Dal’ karena dekatnya makhraj keduanya. contoh: اِدَّرَأَ asalnya اِدْتَرَأَ dan اِذَّكَرَ asalnya اِذْتَكَرَ dan اِزْدَجَرَ asalnya اِزْتَجَرَ.
Praktek I’lal:
اِدَّرَأَ
اِدَّرَأَ asalnya اِدْتَرَأَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ Ta’ diganti Dal karena demi mudahnya pengucapan huruf Ta’ yang jatuh susudah huruf Dal dan karena dekatnya makhraj keduanya, maka menjadi اِدْدَرَأَ. kemudian dal yang pertama di-idghamkan pada dal yang kedua karena satu jenis, maka menjadi اِدَّرَأَ.
اِذَّكَرَ
اِذَّكَرَ asalnya اِذْتَكَرَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ Ta’ diganti Dal karena demi mudahnya pengucapan huruf Ta’ yang jatuh susudah huruf Dal dan karena dekatnya makhraj keduanya, maka menjadi اِذْدَكَرَ. kemudian Huruf Dal diganti Dzal kerena dekatnya makhraj keduanya, maka menjadi اِذْذَكَرَ kemudian dzal yang pertama di-idghamkan pada dzal yang kedua karena satu jenis, maka menjadi اِذَّكَرَ. (juga boleh dibaca Dal dengan di-i’lal sbb: kemudian Huruf Dzal diganti Dal kerena dekatnya makhraj keduanya, maka menjadi اِدْدَكَرَ kemudian dal yang pertama di-idghamkan pada dal yang kedua karena satu jenis, maka menjadi اِدَّكَرَ.)
اِزْدَجَرَ
اِزْدَجَرَ asalnya اِزْتَجَرَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ Ta’ diganti Dal karena demi mudahnya pengucapan huruf Ta’ yang jatuh susudah huruf Zay dan karena dekatnya makhraj keduanya, maka menjadi اِزْدَجَرَ.
Kaidah I’lal ke 18 » Fa’ Fi’il pada wazan افتعل diganti Ta’
إِذَا كَانَ فَاءُ اِفْتَعَلَ وَاوًا أوْ يَاءً أوْ ثَاءً قُلِبَتْ فَاؤُهُ تَاءً لِعُسْرِالنُّطْقِ بِحَرْفِ اللَّيْنِ السَّاكِنِِ لِمَا بَيْنَهُمَا مِنْ مُقَارَبَةِ الْمَخْرَجِ وَمُنَافَاةِ الْوَصْفِ ِلأَنَّ حَرْفَ اللَّيْنِ مَجْهُوْرَةٌ وَالتَّاءُ مَهْمُوْسَةٌ نَحْوُ اِتَّصَلَ أَصْلُهُ اِوْتَصَلَ وَ اِتَّسَرَ أَصْلُهُ اِوْتَسَرَ وَ اِتَّغَرَ أَصْلُهُ اِثْتَغَرَ. (مُهِمَةٌ) وَإنْ كَانَتْ ثَاءً يَجُوْزُ قُلْبُ تَاءِ اِفْتَعَلَ ثَاءً ِلاتِّحَادِهِمَا فِي الْمَهْمُوْسِيَّةِ نَحْوُ اِثَّغَرَ أَصْلُهُ اِثْتَغَرَ.
Bilamana Fa’ Fi’il wazan اِفْتَعَلَ berupa huruf wau, atau Ya’, atau Tsa’, maka huruf Fa’ Fi’ilnya tersebut harus diganti Ta’ karena sukarnya mengucapkah huruf “Layn” (لَيْن) sukun dengan huruf yang diantara keduanya termasuk berdekatan Makhrajnya dan bertentangan sifatnya, karena huruf “layin” (و – ي) bersifat Jahr sedangkan huruf Ta’ bersifat Hams. Contoh: اِتَّصَلَ asalnya اِوْتَصَلَ dan اِتَّسَرَ asalnya اِوْتَسَرَ dan اِتَّغَرَ asalnya اِثْتَغَرَ. (penting) dan apabila Fa’ Fi’il-nya tsb berupa huruf Tsa’, boleh mengganti Ta’nya wazan اِفْتَعَلَ dengan Tsa’, karena keduanya sama-sama bersifat Hams. contoh: اِثَّغَرَ asalnya اِثْتَغَرَ.
Praktek I’lal:
اِتَّصَلَ
اِتَّصَلَ asalnya اِوْتَصَلَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ Wau diganti Ta’ untuk mudahnya mengucaplan huruf Layn sukun dengan huruf yang berdekatan Makhrajnya dan bertentangan sifatnya, karena huruf Layn bersifat Jahr dan huruf Ta’ bersifat Hams, maka menjadi اِتْتَصَلَ kemudian Ta’ pertama di-idghamkan pada Ta’ kedua karena dua huruf yang sejenis maka menjadi اِتَّصَلَ.
اِتَّسَرَ
اِتَّسَرَ asalnya اِوْتَسَرَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ Wau diganti Ta’ untuk mudahnya mengucaplan huruf Layn sukun dengan huruf yang berdekatan Makhrajnya dan bertentangan sifatnya, karena huruf Layn bersifat Jahr dan huruf Ta’ bersifat Hams, maka menjadi اِتْتَسَرَ kemudian Ta’ pertama di-idghamkan pada Ta’ kedua karena dua huruf yang sejenis maka menjadi اِتَّسَرَ.
اِتَّغَرَ
اِتَّغَرَ asalnya اِثْتَغَرَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ huruf Tsa’ diganti Ta’ karena sama-sama bersifat Hams, maka menjadi اِتْتَغَرَ kemudian Ta’ pertama di-idghamkan pada Ta’ kedua karena dua huruf yang sejenis maka menjadi اِتَّغَرَ
Dan boleh juga dibaca Tsa’ اِثَّّّّّغَرَ dengan Praktek I’lal sbb:
اِثَّّّّّغَرَ asalnya اِثْتَغَرَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ huruf Ta’ diganti Tsa’ karena sama-sama bersifat Hams, maka menjadi اِثْثَغَرَ kemudian Tsa’ pertama di-idghamkan pada Tsa’ kedua karena dua huruf yang sejenis maka menjadi اِتَّغَرَ
Penting untuk diketahui:
اِتَّخَذَ
اِتَّخَذَ asalnya اِئْتَخَذَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ huruf Hamzah yang kedua diganti Ya’ karena ia sukun dan sebelumnya ada huruf berharkah kasrah, maka menjadi اِيْتَخَذَ kemudian huruf Ya’ diganti Ta’ (tanpa mengikuti kias*) maka menjadi اِتَّخَذَ.
* Pergantian Ya’ dengan Ta’ tidak mengikuti Qias yakni termasuk dari perihal Syadz.
Kaidah Ilal ke 19 » Huruf Ta’ wazan تَفَعَّلَ dan تَفَاعَلَ diganti dg huruf yang berdekatan makhrajnya
إذَا كَانَ فَاءُ تَفَعَّلَ وَتَفَاعَلَ تَاءً أَوْ ثَاءً أوْ دَالاً أوْ ذَالاَ أَوْ زَايًا أوْ سِيْنًا أَوْ شِيْنًا أَوْ صَادًا أَوْ ضَادًا أَوْ طَاءً أَوْ ظَاءً يَجُوْزُ قَلْبُ تَائِهِمَا بِمَا يُقَارِبُهُ فِِي الْمَخْرَجِ ثُمَّ أُدْغِمَتِ اْلاُوْلَى فِي الثَّانِيَّةِ بَعْدَ جَعْلِ أَوَّلِ الْمُتَقَارِبَيْنِ مِثْلَ الثَّانِيْ لِلْمُجَانَسَةِ مَعَ اجْتِلاَبِ هَمْزَةِ الْوَصْلِ لِيُمْكِنَ اْلاِبْتِدَاءُ بِالسَّاكِنِ نَحْوُ اِتَّرَسِ أّصْلُهُ تَتَرَّسَ وَاِثَّاقَلَ أّصْلُهُ تَثَاقَلَ وَاِدَّثَّرَ أّصْلُهُ تَدَثَّرَ واِذَّكَّرَ أّصْلُهُ تَذَكَّرَ وَاِزَّجَّرَ أّصْلُهُ تَزَجَّرَ وَاِسَّمَّعَ أّصْلُهُ تَسَمَّعَ وَاِشَّقَّقَ أصله تَشَقَّقَ وَ اِصَّدَّقَ أّصْلُهُ تَصَدَّقَ وَاِضَّرَّعَ أّصْلُهُ تَضَرَّعَ وَاِظَّهَّرَ أّصْلُهُ تَظَهَّرَ وَاِطَّاهَرَ أّصْلُهُ تَطَاهَرَ.
Bilamana Fa’ Fi’il wazan تَفَعَّلَ dan تَفَاعَلَ berupa huruf ت، ث، د، ذ، ز، س, ش, ص، ض, ط, ظ، maka boleh Ta’ dari kedua wazan tersebut diganti dengan huruf yang mendekati dalam Makhrajnya, kemudian huruf yang pertama di-idghamkan pada huruf yang kedua, demikian ini setelah huruf yang pertama dari kedua huruf yang berdekatan makhrajnya tersebut, dijadikan serupa dengan huruf yang kedua. berikut memasang Hamzah Washal agar memungkinkan permulaan dengan huruf mati. contoh: اِتَّرَسِ asalnya تَتَرَّسَ dan اِثَّاقَلَ asalnya تَثَاقَلَ dan اِدَّثَّرَ asalnya تَدَثَّرَ dan ذَّكَّرَ asalnya تَذَكَّرَ dan اِزَّجَّرَ asalnya تَزَجَّرَ dan اِسَّمَّعَ asalnya تَسَمَّعَ dan اِشَّقَّقَ asalnya تَشَقَّقَ dan اِصَّدَّقَ asalnya تَصَدَّقَ dan اِضَّرَّعَ asalnya تَضَرَّعَ dan اِظَّهَّرَ asalnya تَظَهَّرَ dan اِطَّاهَرَ asalnya تَطَاهَرَ .
Praktek I’lal :
اِتَّرَسَ
اِتَّرَسَ asalnya تَتَرَّسَ mengikuti wazan تَفَعَّلَ huruf Ta’ yang pertama disukunkan sebagai sebab syarat idgham maka menjadi تْتَرَّسَ maka Ta’ yang pertama di-idghamkan pada Ta’ yang kedua karena dua huruf sejenis, berikut mendatangkan Hamzah di permulaannya agar memungkinkan permulaan dengan huruf mati. Maka menjadi اِتَّرَسَ
اِثَّاقَلَ
اِثَّاقَلَ asalnya تَثَاقَلَ mengikuti wazan تَفَاعَلَ huruf Ta’ diganti Tsa’ karena berdekatan Makhrojnyamaka menjadi ثَثَاقَلَ kemudian huruf Tsa’ yang pertama disukunkan sebagai sebab syarat idgham maka menjadi ثَثَاقَلَ maka Tsa’ yang pertama di-idghamkan pada Tsa’ yang kedua karena dua huruf sejenis, berikut mendatangkan Hamzah di permulaannya agar memungkinkan permulaan dengan huruf mati. Maka menjadi اِثَّاقَلَ
Perhatian :
I’lal dalam Kaidah ke 19 ini cuma bersifat Jaiz atau boleh, bukan suatu ketentuan musti. Sebagai pengalaman bagi kita, karena ini jarang ditemukan. dan yang banyak digunakan adalah berupa bentuk asalnya

SYUBHAT SURAT AL-IKHLASH

Nama Al-Ahad ini hanya disebutkan dalam satu surat saja, yaitu di dalam Surat Al-Ikhlash (112)
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Robb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
 
ْسُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنْ رَّبِهِ فَنَزَلَ : { قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ } فَاللهُ خَبَرُ هُوَ وَأَحَدٌ بَدْلُ مِنْهُ أَو خَبَرٌ ثَانٍ
1. (Katakanlah, "Dialah Allah Yang Maha Esa") lafal Allah adalah Khabar dari lafal Huwa, sedangkan lafal Ahadun adalah Badal dari lafal Allah, atau Khabar kedua dari lafal Huwa.
{ اَللهُ الصَّمَدُ } مُبْتَدَأٌ وَخَبَرٌ أَيْ اَلْمَقْصُوْدُ فِي اْلحَوَائِجِ عَلَى الدَّوَامِ
2. (Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu) lafal ayat ini terdiri dari Mubtada dan Khabar; artinya Dia adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu untuk selama-lamanya.
{ لَمْ يَلِدُ } لِانْتِفَاءِ مُجَانِسَتِهِ { وَلَمْ يُوْلَدْ } لِانْتِفَاءِ اْلحُدُوْثِ عَنْهُ
3. (Dia tiada beranak) karena tiada yang menyamai-Nya (dan tiada pula diperanakkan) karena mustahil hal ini terjadi bagi-Nya.
{ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ } أَيْ مُكَافِئًا وَمُمَاثِلًا وَلَهُ مُتَعَلَّقٌ بِكُفُوًا وَقُدِّمَ عَلَيْهِ لَِأنَّهُ مَحَطُ اْلقَصْدِ بِالنَّفْيِ وُأخِّرَ ِأٌحَدٌ وَهُوَ اسْمُ يَكُنْ عَنْ خَبَرِهَا رِعَايَةً لِلفَاصِلَة
4. (Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia) atau yang sebanding dengan-Nya, lafal Lahu berta'alluq kepada lafal Kufuwan. Lafal Lahu ini didahulukan karena dialah yang menjadi subjek penafian; kemudian lafal Ahadun diakhirkan letaknya padahal ia sebagai isim dari lafal Yakun, sedangkan Khabar yang seharusnya berada di akhir mendahuluinya; demikian itu karena demi menjaga Fashilah atau kesamaan bunyi pada akhir ayat.
Al-Qur'nul Karim Surah Al-Baqoroh (7) ayat 180
وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۖ
Dan Allah memiliki Asma'ul-husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asma'ul-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
Al-Qur'nul Karim Surah Al-Isro (17) ayat 110
قُلِ ادْعُوا اللّٰهَ اَوِ ادْعُوا الرَّحْمٰنَۗ اَيًّا مَّا تَدْعُوْا فَلَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًا
Katakanlah (Muhammad), “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asma‘ul husna) dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam salat dan janganlah (pula) merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu.”
Al-Qur'nul Karim Surah Al-Hasyr (59) ayat 24
هُوَ اللّٰهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۗ يُسَبِّحُ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
H.R. Bukhori no. 2736 dan H.R. Muslim no. 6/2677
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ "‏ إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمَا مِائَةً إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ ‏"‏‏.‏
"Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu, siapa yang menjaganya maka dia masuk surga."
Hadits riwayat Imam Ahmad no. 3712, Imam Al-Hakim no. 1877 dan yang lainnya. Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shohihah no. 199 menyatakan bahwa hadits terkait berada dalam tingkatan shohih.
( ...أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ ...)
"Saya memohon dengan seluruh nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakan diri-Mu dengannya, yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, yang Engkau turunkan di dalam Kitab-Mu atau yang Engkau sembunyikan di ilmu ghaib di sisi-Mu..."
Syaekh Imam An-Nawawi rohimahullah dalam Syarh Shohih Muslim, 9: 39 berkata,
وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّ هَذَا الْحَدِيث لَيْسَ فِيهِ حَصْر لِأَسْمَائِهِ سُبْحَانه وَتَعَالَى ، فَلَيْسَ مَعْنَاهُ : أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ أَسْمَاء غَيْر هَذِهِ التِّسْعَة وَالتِّسْعِينَ ، وَإِنَّمَا مَقْصُود الْحَدِيث أَنَّ هَذِهِ التِّسْعَة وَالتِّسْعِينَ مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّة ، فَالْمُرَاد الْإِخْبَار عَنْ دُخُول الْجَنَّة بِإِحْصَائِهَا لَا الْإِخْبَار بِحَصْرِ الْأَسْمَاء
Ulama bersepakat bahwa hadits ini tidak menunjukkan pembatasan nama Allah Ta’ala. Tidaklah maknanya bahwa Allah tidak memiliki nama selain ke-99 nama tersebut. Makna hadits tersebut adalah barangsiapa yang menghitung ke-99 nama tersebut maka masuk surga, sehingga yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah kabar masuk surga bagi yang menghitung nama Allah, bukan pembatasan nama Allah.”

Nama-Nama Allah S.W.T 99 Asmaul Husna
1- Ar-Rohmanu الرَّحْمـٰنُ Yang Maha Pengasih
2- Ar-Rohimu الرَّحِيْمُ Yang Maha Penyayang
3- Al-Maliku الْمَلِكُ Yang Maha Merajai/Memerintah
4- Al-Quddusu الْقُدُّوْسُ Yang Mahasuci 
 As-Salamu السَّلاَمُ Yang Maha Memberi Kesejahteraan
6- Al-Mu’minu الْمُؤْمِنُ Yang Maha Memberi Keamanan
7- Al-Muhaiminu الْمُهَيْمِنُ Yang Maha Pemelihara
8- Al-`Azizu الْعَزِيْزُ Yang Memiliki Mutlak Kegagahan
9- Al-Jabbaru الْجَبَّارُ Yang Maha Perkasa
10- Al-Mutakabbiru الْمُتَكَبِّرُ Yang Maha Megah
11- Al-Kholiqu الْخَالِقُ Yang Maha Pencipta
12- Al-Bari’u الْبَارِئُ Yang Maha Melepaskan
13- Al-Mushowwiru الْمُصَوِّرُ Yang Maha Membentuk Rupa (makhluknya)
14- Al-Ghoffaru الْغَفَّارُ Yang Maha Pengampun
15- Al-Qohharu الْقَهَّارُ Yang Maha Memaksa
16- Al-Wahhabu الْوَهَّابُ Yang Maha Pemberi Karunia
17- Ar-Rozzaqu الرَّزَّاقُ Yang Maha Pemberi Rezeki
18- Al-Fattahu الْفَتَّاحُ Yang Maha Pembuka Rahmat
19- Al-`Alimu الْعَلِيْمُ Yang Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)
20- Al-Qobidlu الْقَابِضُ Yang Maha Menyempitkan (makhluknya)
21- Al-Basithu الْبَاسِطُ Yang Maha Melapangkan (makhluknya)
22- Al-Khofidlu الْخَافِضُ Yang Maha Merendahkan (makhluknya)
23- Ar-Rofi`u الرَّافِعُ Yang Maha Meninggikan (makhluknya)
24- Al-Mu`izzu الْمُعِزُّ Yang Maha Memuliakan (makhluknya)
25- Al-Mudzillu الْمُذِلُّ Yang Maha Menghinakan (makhluknya)
26- As-Sami`u السَّمِيْعُ Yang Maha Mendengar
27- Al-Bashiru الْبَصِيْرُ Yang Maha Melihat
28- Al-Hakamu الْحَكَمُ Yang Maha Menetapkan
29- Al-`Adlu الْعَدْلُ Yang Mahaadil
30- Al-Lathifu اللَّطِيْفُ Yang Mahalembut
31- Al-Khobiru الْخَبِيْرُ Yang Maha Mengetahui Rahasia
32- Al-Ḫalimu الْحَلِيْمُ Yang Maha Penyantun
33- Al-`Adhimu الْعَظِيْمُ Yang Mahaagung
34- Al-Ghofuru الْغَفُوْرُ Yang Maha Pengampun
35- Asy-Syakuru الشَّكُوْرُ Yang Maha Pembalas Budi (Menghargai)
36- Al-`Aliyyu العَلِيُّ Yang Maha Tinggi
37- Al-Kabiru الْكَبِيْرُ Yang Maha Besar
38- Al-Ḫafidhu الْحَفِيْظُ Yang Maha Menjaga
39- Al-Muqitu الْمُقِيْتُ Yang Maha Pemberi Kecukupan
40- Al-Ḫasibu الْحَسِيْبُ Yang Maha Membuat Perhitungan
41- Al-Jalilu الْجَلِيْلُ Yang Mahamulia
42- Al-Karimu الْكَرِيْمُ Yang Maha Pemurah
43- Ar-Roqibu الرَّقِيْبُ Yang Maha Mengawasi
44- Al-Mujibu الْمُجِيْبُ Yang Maha Mengabulkan
45- Al-Wasi`u الْوَاسِعُ Yang Maha Luas
46- Al-Ḫakimu الْحَكِيْمُ Yang Maha Maka Bijaksana
47- Al-Wadudu الْوَدُوْدُ Yang Maha Pencinta
48- Al-Majidu الْمَجِيْدُ Yang Maha Mulia
49- Al-Ba`itsu الْبَاعِثُ Yang Maha Membangkitkan
50- Asy-Syahidu الشَّهِيْدُ Yang Maha Menyaksikan
51- Al-Ḫaqqu الْحَقُّ Yang Mahabenar
52- Al-Wakilu الْوَكِيْلُ Yang Maha Memelihara
53- Al-Qowiyyu الْقَوِيُّ Yang Mahakuat
54- Al-Matinu الْمَتِيْنُ Yang Mahakokoh
55- Al-Waliyyu الْوَلِيُّ Yang Maha Melindungi
56- Al-Ḫamidu الْحَمِيْدُ Yang Maha Terpuji
57- Al-Muḫshi الْمُحْصِيْ Yang Maha Mengalkulasi
58- Al-Mubdi’u الْمُبْدِئُ Yang Maha Memulai
59- Al-Mu`idu الْمُعِيْدُ Yang Maha Mengembalikan Kehidupan
60- Al-Muḫyi الْمُحْيِ Yang Maha Menghidupkan
61- Al-Mumitu الْمُمِيْتُ Yang Maha Mematikan
62- Al-Ḫayyu الْحَيُّ Yang Mahahidup
63- Al-Qayyumu الْقَيُّوْمُ Yang Mahamandiri
64- Al-Wajidu الْوَاجِدُ Yang Maha Penemu
65- Al-Majidu الْمَاجِدُ Yang Mahamulia
66- Al-Wahidu الْوَاحِدُ Yang Maha Tunggal
67- Al-Ahadu الْأَحَدُ Yang Maha Esa
68- Ash-Shomadu الصَّمَدُ Yang Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta
69- Al-Qodiru الْقَادِرُ Yang Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan
70- Al-Muqtadiru الْمُقْتَدِرُ Yang Maha Berkuasa
71- Al-Muqoddimu الْمُقَدِّمُ Yang Maha Mendahulukan
72- Al-Muakhiru الْمُؤَخِّرُ Yang Maha Mengakhirkan
73- Al-Awwalu الْاَوَّلُ Yang Mahaawal
74- Al-Akhiru الْآخِرُ Yang Mahaakhir
75- Adh-Dhohiru الظَّاهِرُ Yang Mahanyata
76- Al-Bathinu الْبَاطِنُ Yang Maha Ghaib
77- Al-Wali الْوَالِي Yang Maha Memerintah
78- Al-Muta`ali الْمُتَعَالِي Yang Maha Tinggi
79- Al-Barru الْبَرُّ Yang Maha Penderma
80- At-Tawwabu التَّوَّابُ Yang Maha Penerima Tobat
81- Al-Muntaqimu الْمُنْتَقِمُ Yang Maha Penuntut Balas
82- Al-`Afuwwu الْعَفُوُّ Yang Maha Pemaaf
83- Ar-Ro’ufu الرَّؤُوْفُ Yang Maha Pengasih
84- Malikul-mulki مَالِكُ الْمُلْكِ Yang Maha Penguasa Kerajaan (Semesta)
85- Dzul-Jalali wal-Ikrom ذُوْ الْجَلَالِ وَالْاِكْرَامِ Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
86- Al-Muqsithu الْمُقْسِطُ Yang Mahaadil
87- Al-Jami`u الْجَامِعُ Yang Maha Mengumpulkan
88- Al-Ghoniyyu الْغَنِيُّ Yang Maha Berkecukupan
89- Al-Mughnî الْمُغْنِيْ Yang Maha Memberi Kekayaan
90- Al-Mani`u الْمَانِعُ Yang Maha Mencegah
91- Adl-Dloru الضَّارُ Yang Maha Memberi Derita
92- An-Nafi`u النَّافِعُ Yang Maha Memberi Manfaat
93- An-Nuru النُّوْرُ Yang Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)
94- Al-Hadi الْهَادِيْ Yang Maha Pemberi Petunjuk
95- Al-Badi`u الْبَدِيْعُ Yang Maha Pencipta
96- Al-Baqi الْبَاقِيْ Yang Mahakekal
97- Al-Waritsu الْوَارِثُ Yang Maha Pewaris
98- Ar-Rosyidu الرَّشِيْدُ Yang Mahapandai
99- Ash-Shoburu الصَّبُوْرُ Yang Mahasabar
1. Al-Qur'nul Karim Surah Al-Baqoroh (2) ayat 163
وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ
Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
2. Al-Qur'nul Karim Surah An-Nisa (4) ayat 171
يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ وَلَا تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّۗ اِنَّمَا الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُوْلُ اللّٰهِ وَكَلِمَتُهٗ ۚ اَلْقٰهَآ اِلٰى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِّنْهُ ۖفَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖۗ وَلَا تَقُوْلُوْا ثَلٰثَةٌ ۗاِنْتَهُوْا خَيْرًا لَّكُمْ ۗ اِنَّمَا اللّٰهُ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ ۗ سُبْحٰنَهٗٓ اَنْ يَّكُوْنَ لَهٗ وَلَدٌ ۘ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ وَكِيْلًا
Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sungguh, Al-Masih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, “(Tuhan itu) tiga,” berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Mahasuci Dia dari (anggapan) mempunyai anak. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung.
3. Al-Qur'nul Karim Surah Al-Maidah (5) ayat 73
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ ثَالِثُ ثَلٰثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّآ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ ۗوَاِنْ لَّمْ يَنْتَهُوْا عَمَّا يَقُوْلُوْنَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan, bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih.
4. Al-Qur'nul Karim Surah Al-An'am (6) ayat 19
قُلْ اَيُّ شَيْءٍ اَكْبَرُ شَهَادَةً ۗ قُلِ اللّٰهُ ۗشَهِيْدٌۢ بَيْنِيْ وَبَيْنَكُمْ ۗوَاُوْحِيَ اِلَيَّ هٰذَا الْقُرْاٰنُ لِاُنْذِرَكُمْ بِهٖ وَمَنْۢ بَلَغَ ۗ اَىِٕنَّكُمْ لَتَشْهَدُوْنَ اَنَّ مَعَ اللّٰهِ اٰلِهَةً اُخْرٰىۗ قُلْ لَّآ اَشْهَدُ ۚ قُلْ اِنَّمَا هُوَ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ وَّاِنَّنِيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang lebih kuat kesaksiannya?” Katakanlah, “Allah, Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Al-Qur'an ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai (Al-Qur'an kepadanya). Dapatkah kamu benar-benar bersaksi bahwa ada tuhan-tuhan lain bersama Allah?” Katakanlah, “Aku tidak dapat bersaksi.” Katakanlah, “Sesungguhnya hanya Dialah Tuhan Yang Maha Esa dan aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).”
5. Al-Qur'nul Karim Surah Yusuf (12) ayat 39
يٰصَاحِبَيِ السِّجْنِ ءَاَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُوْنَ خَيْرٌ اَمِ اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُۗ
Wahai kedua penghuni penjara! Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa?
6. Al-Qur'nul Karim Surah Ar-Ro'du (13) ayat 16
قُلْ مَنْ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ قُلِ اللّٰهُ ۗقُلْ اَفَاتَّخَذْتُمْ مِّنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَ لَا يَمْلِكُوْنَ لِاَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَّلَا ضَرًّاۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الْاَعْمٰى وَالْبَصِيْرُ ەۙ اَمْ هَلْ تَسْتَوِى الظُّلُمٰتُ وَالنُّوْرُ ەۚ اَمْ جَعَلُوْا لِلّٰهِ شُرَكَاۤءَ خَلَقُوْا كَخَلْقِهٖ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْۗ قُلِ اللّٰهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
Katakanlah (Muhammad), “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Katakanlah, “Allah.” Katakanlah, “Pantaskah kamu mengambil pelindung-pelindung selain Allah, padahal mereka tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi dirinya sendiri?” Katakanlah, “Samakah orang yang buta dengan yang dapat melihat? Atau samakah yang gelap dengan yang terang? Apakah mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah, “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Tuhan Yang Maha Esa, Mahaperkasa.”
7. Al-Qur'nul Karim Surah Ibrohim (14) ayat 48
يَوْمَ تُبَدَّلُ الْاَرْضُ غَيْرَ الْاَرْضِ وَالسَّمٰوٰتُ وَبَرَزُوْا لِلّٰهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ
(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di Padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa.
8. Al-Qur'nul Karim Surah An-Nahl (16) ayat 51
وَقَالَ اللّٰهُ لَا تَتَّخِذُوْٓا اِلٰهَيْنِ اثْنَيْنِۚ اِنَّمَا هُوَ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَاِيَّايَ فَارْهَبُوْنِ
Dan Allah berfirman, “Janganlah kamu menyembah dua tuhan; hanyalah Dia Tuhan Yang Maha Esa. Maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.”
9. Al-Qur'nul Karim Surah Al-Anbiya (21) ayat 108
قُلْ اِنَّمَا يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Sungguh, apa yang diwahyukan kepadaku ialah bahwa Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka apakah kamu telah berserah diri (kepada-Nya)?”
10. Al-Qur'nul Karim Surah Al-Hajj (22) ayat 34
وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ ۙ
Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),
11. Al-Qur'nul Karim Surah Al-Ankabut (29) ayat 46
وَلَا تُجَادِلُوْٓا اَهْلَ الْكِتٰبِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۖ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ وَقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِالَّذِيْٓ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَاُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَاِلٰهُنَا وَاِلٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَّنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ
Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah, ”Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan kamu satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.”
12. Al-Qur'nul Karim Surah Ash-Shoffat (37) ayat 4
اِنَّ اِلٰهَكُمْ لَوَاحِدٌۗ
sungguh, Tuhanmu benar-benar Esa.
13. Al-Qur'nul Karim Surah Shod (38) ayat 65
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ مُنْذِرٌ ۖوَّمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّا اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa,
14. Al-Qur'nul Karim Surah Az-Zumar (39) ayat 4
لَوْ اَرَادَ اللّٰهُ اَنْ يَّتَّخِذَ وَلَدًا لَّاصْطَفٰى مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۙ سُبْحٰنَهٗ ۗهُوَ اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
Sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang Dia kehendaki dari apa yang telah diciptakan-Nya. Mahasuci Dia. Dialah Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa.
15. Al-Qur'nul Karim Surah Al-Mu'min/Al-Ghofir (40) ayat 16
يَوْمَ هُمْ بَارِزُوْنَ ۚ لَا يَخْفٰى عَلَى اللّٰهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ ۗلِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ۗ لِلّٰهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ
(yaitu) pada hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tidak sesuatu pun keadaan mereka yang tersembunyi di sisi Allah. (Lalu Allah berfirman), “Milik siapakah kerajaan pada hari ini?” Milik Allah Yang Maha Esa, Maha Mengalahkan.
16. Al-Qur'nul Karim Surah Al-Fushilat (41) ayat 6
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۟ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰىٓ اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَاسْتَقِيْمُوْٓا اِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ ۗوَوَيْلٌ لِّلْمُشْرِكِيْنَۙ
Katakanlah (Muhammad), “Aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu tetaplah kamu (beribadah) kepada-Nya dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Dan celakalah bagi orang-orang yang mempersekutukan-(Nya),
- Al-Qur'nul Karim Surah Al-Isro (17) ayat 46
وَّجَعَلْنَا عَلٰى قُلُوْبِهِمْ اَكِنَّةً اَنْ يَّفْقَهُوْهُ وَفِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَقْرًاۗ وَاِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِى الْقُرْاٰنِ وَحْدَهٗ وَلَّوْا عَلٰٓى اَدْبَارِهِمْ نُفُوْرًا
Dan Kami jadikan hati mereka tertutup dan telinga mereka tersumbat, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila engkau menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Qur'an, mereka berpaling ke belakang melarikan diri (karena benci).
- Al-Qur'nul Karim Surah Az-Zumar (39) ayat 45
وَاِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَحْدَهُ اشْمَـَٔزَّتْ قُلُوْبُ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِۚ وَاِذَا ذُكِرَ الَّذِيْنَ مِنْ دُوْنِهٖٓ اِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ
Dan apabila yang disebut hanya nama Allah, kesal sekali hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat. Namun apabila nama-nama sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka menjadi bergembira.
- Al-Qur'nul Karim Surah Al-Mu'min/Al-Ghofir (40) ayat 12
ذٰلِكُمْ بِاَنَّهٗٓ اِذَا دُعِيَ اللّٰهُ وَحْدَهٗ كَفَرْتُمْۚ وَاِنْ يُّشْرَكْ بِهٖ تُؤْمِنُوْا ۗفَالْحُكْمُ لِلّٰهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيْرِ
Yang demikian itu karena sesungguhnya kamu mengingkari apabila diseru untuk menyembah Allah saja. Dan jika Allah dipersekutukan, kamu percaya. Maka keputusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Mahatinggi, Mahabesar.
Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas perbedaan kata Ahad yang bermakna esa dan kata Wahid yang bermakna satu.
Pertama, kata Wahid adalah permulaan angka atau bilangan. Seperti satu, dua, tiga dan seterusnya.
Sedangkan kata Ahad adalah bilangan yang terhenti, yaitu esa, tunggal dan tak ada bandingannya.
ولم يكن له كفوا أحد
Kedua, kata Wahid memiliki bentuk kata muannats (bentuk kata perempuan), yaitu: Wahidah (واحدة).
Sedangkan kata Ahad tidak ada bentuk untuk perempuan. Dan ini dinamakan Maqomut Tasyrif (Pangkat kemuliaan).
Ketiga, kata Wahid bisa digunakan sebagai sifat untuk siapa dan apa saja. Seperti Rojulun Wahid (orang laki-laki satu), Kitabun Wahid (satu kitab).
رجل واحد
كتاب واحد
Sedangkan kata Ahad adalah sifat yang hanya khusus untuk ALLOH semata. Seperti contoh:
قل هو الله أحد
Kita tidak diperbolehkan menggunakan kata-kata Rojulun Ahad, kata ini adalah kata yang salah.
Keempat, kata Wahid bisa terbagi menjadi beberapa bagian, seperti satu perempat, satu pertiga dan seterusnya.
Sedangkan kata Ahad tidak bisa terbagi. Ahad berarti tunggal.
Kelima, kata Wahid tidak meniadakan secara sempurna. Seperti contoh:
ما رأيت واحدا
“Saya tidak melihat satu orang”.
Kalimat itu memiliki makna: tidak melihat satu orang. Tetapi memiliki kemungkinan melihat dua orang, tiga orang atau lebih.
Sedangkan bila menggunakan kata Ahad seperti contoh:
ما رأيت أحدا
“Saya tidak melihat seseorang”.
Maka kalimat itu memiliki makna tidak melihat seorang pun, baik satu, dua, tiga maupun lebih.
Keenam, kata Wahid bisa digunakan untuk makhluk berakal maupun untuk yang lain. Seperti:
رجل واحد
جمل واحد
Rojulun Wahid (Laki-laki satu).
Jamalun Wahid (Onta satu).
Sedangkan Ahad khusus untuk ALLAH saja. Atau bahasa nahwunya khusus untuk yang berakal.
Ketujuh, kata Wahid berbentuk isim Fa’il, sedangkan kata Ahad berbentuk isim sifat musyabbahah. Seperti diketahui bahwa isim sifat musyabbahah lebih kuat daripada isim Fa’il.
Kedelapan, kata Wahid dimulai dengan huruf Wawu. Huruf Wawu adalah huruf Layn yang lemah.
Sedangkan kata Ahad dimulai dengan huruf Hamzah Qotho’. Hamzah adalah huruf yang kuat.
فَصْلٌ فِي زِيَادَةِ هَمْزَة الْوَصْلِ
لِلْوَصْلِ هَمْزٌ سَابِقٌ لاَ يَثْبُتُ *** إِلاَّ إِذَا ابْتُدِى بِهِ كَاسْتَثْبِتُوَا
Untuk mewashalkan (bacaan) diperlukan huruf hamzah yang letak nya mendahului lafaz yang bersangkutan; dan tidak bersifat te kecuali apabila diletakkan pada permulaar. lafaz, seperti yang te dapat pada lafaz istatsbituu (bersabarlah kalian
وَهْوَ لِفِعْلٍ مَاضٍ احْتَوَى عَلَى *** أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعَةٍ نَحْوُ انْجَلَى
Hamzah washal bagi fi'il madhi yang mengandung lebih dari empat huruf seperti lafaz injalaa.
وَالأَمْرِ وَالْمَصْدَرِ مِنْهُ وَكَذَا *** أَمْرُ الْثُّلاَثِي كَاخْشَ وَامْضِ وَانْفذَا
Dan fi'il amar serta masdhar-nya, demikian pula bentuk amar dari fi'il tsulatsi, seperti ikhsya, imdhi, dan unfudz
وَفِي اسْمٍ اسْتٍ ابْنٍ ابْنُمٍ سُمِعْ *** وَاثْنَيْن وَامْرِىء وَتَأْنِيْثٍ تَبِعْ
Dalam lafaz ismin, istin, ibnin, dan ibnumin pernah didengar. Dalam lafaz itsnaini serta imri-in bentuk ta-nits-nya pun diikutkan pula.
وَأَيْمُنُ هَمْزُ أَلْ كَذَا وَيُبْدَلُ *** مَدًّا فِي الاسْتِفْهَامِ أَوْ يُسَهَّلُ
Dalam lafaz aymunun, demikian pula hamzahnya al, diganti menjadi huruf madd dalam istifham atau dibaca tashil
Beberapa pelajaran atau petunjuk yang dapat kita ringkas dari dua nama ini, antara lain:
Tidak ada yang menyamai dan menandingi Allâh, serta tidak ada yang setara dengan-Nya dalam segala segi. Allâh Maha Suci dan Maha Tinggi, tidak ada yang menyamai-Nya dan tidak ada pula yang manandingi-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :
Al-Qur'nul Karim Surah Maryam (19) ayat 65
رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهٖۗ هَلْ تَعْلَمُ لَهٗ سَمِيًّا
(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguhhatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?
Juga berfirman dalam 
Al-Qur'nul Karim Surah Al-Ikhlash (112) ayat 4,
وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ
Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.”
Begitu pula dalam 
Al-Qur'nul Karim Surah Asy-Syuro (42) ayat 11,
فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّمِنَ الْاَنْعَامِ اَزْوَاجًاۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِۗ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.
Batilnya pemahaman takyîf yaitu, usaha seseorang dengan akalnya yang lemah untuk mengetahui bagaimana sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla . Usaha semacam itu tidak mungkin bisa terwujud, hanya sia-sia belaka. Karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satu-Nya yang memiliki sifat sempurna, agung dan mulia, maka tidak ada satu dzatpun yang bisa menjadi serikat-Nya, tidak ada yang dapat menyerupai-Nya. Tidak ada satu akalpun yang dapat mengetahui hakikat Allâh Azza wa Jalla , bahkan kesempurnaan apapun yang terlintas dalam benak makhluk, maka Allâh lebih besar dan lebih agung dari itu semua.
Penetapan seluruh sifat Allâh yang sempurna,tidak ada satu sifat yang menunjukkan kemuliaan dan keindahan melainkan sifat tersebut telah dimiliki Allâh Azza wa Jalla , karna hanya Allâhlah yang memiliki sifat sempurna secara mutlaq dan tidak ada kekurangan sedikitpun pada-Nya.
Bahwa semua sifat yang Allâh Azza wa Jalla miliki, merupakan sifat-sifat paling agung yang berada pada puncak keagungan. Allâh Azza wa Jalla berfirman dalam 
Al-Qur'nul Karim Surah An-Najm (53) ayat 42
وَاَنَّ اِلٰى رَبِّكَ الْمُنْتَهٰىۙ
dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya (segala sesuatu),
Maka bagi-Nyalah pendengaran paling sempurna dan penglihatan paling sempurna. Semua sifat-Nya adalah sifat paling sempurna. Sebagaimana Allâh berfirman dalam 
Al-Qur'nul Karim Surah An-Nahl (16) ayat 60
لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِۚ وَلِلّٰهِ الْمَثَلُ الْاَعْلٰىۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Bagi orang-orang yang tidak beriman pada (kehidupan) akhirat, (mempunyai) sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat Yang Mahatinggi. Dan Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana.
Mahasucinya Allâh dari segala kekurangan dan aib. Karena itu merupakan sifat para makhluk, sementara Allâh adalah Dzat yang memiliki sifat sempurna, agung dan mulia tanpa ada satu makhlukpun yang semisal dengan-Nya, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jallaetika menyatakan kesucian diri-Nya dari sifat memperanak dalam 
Al-Qur'nul Karim Surah Az-Zumar (39) ayat 45
وَاِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَحْدَهُ اشْمَـَٔزَّتْ قُلُوْبُ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِۚ وَاِذَا ذُكِرَ الَّذِيْنَ مِنْ دُوْنِهٖٓ اِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ
Dan apabila yang disebut hanya nama Allah, kesal sekali hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat. Namun apabila nama-nama sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka menjadi bergembira.
Wajibnya berikrar ( menyatakan) bahwa Allâh Azza wa Jalla memiliki kesempurnaan sifat yang mutlak, baik dalam Dzat, sifat-sifat maupun perbuatan-perbuatan-Nya. Dan keyakinan itu hendaknya tertanam dalam hati. Ini disebut Tauhid Ilmi (berkaitan dengan pemahaman).
Wajibnya meng-Esakan Allâh dan ikhlas dalam beribadah, serta meyakini bahwa Allâh Azza wa Jalla satu-satunya Pencipta dan Pemberi rizki yang dapat memberi maupun menahannya, dapat merendahkan serta mengangkat derajat hamba-Nya, dan dapat menghidupkan serta mematikan. Oleh karna itu wajib meng-Esakan Allâh Azza wa Jalla dalam semua sisi peribadatan. Ini di sebut Tauhid ‘Amali (berkaitan dengan pengamalan).
Ini merupakan bantahan terhadap orang-orang musyrik dan semua aliran sesat yang sama sekali tidak menghormati dan mengagungkan Allâh Azza wa Jalla dengan penghormatan dan pengagungan yang semestinya. Tidak pula mengakui ke-Esaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , sehingga mereka membuat sekutu-sekutu bagi Allâh Azza wa Jalla , membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan berburuk sangka kepada Allâh, mencela serta meremehkan Rububiyah Allâh dan melakukan pelanggaran terhadap tujuan diciptakannya manusia yaitu mentauhidkan (mengesakan) Allâh, tunduk dan patuh dengan melaksanakan semua peribadatan kepada Allâh. Mereka kesal dan mendongkol bila disebut kalimat TAUHID, jiwa mereka jauh dari kebenaran dan petunjuk Allâh Azza wa Jalla . Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman 
dalam Al-Qur'nul Karim Surah Az-Zumar (39) ayat 45
وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ ۖ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
Dan apabila hanya nama Allâh saja disebut, kesAllâh hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allâh yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.
Juga berfirman dalam 
Al-Qur'nul Karim Surah Al-Isro (17) ayat 46
وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ
Dan apabila kamu menyebut Rabbmu saja dalam al-Qur’ân, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya.
Juga dalam 
Al-Qur'nul Karim Surah Al-Mu'min/Al-Ghofir (40) ayat 12
ذَٰلِكُمْ بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ ۖ وَإِنْ يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا ۚ فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ
Yang demikian itu karena kamu kafir apabila hanya Allâh saja yang diibadahi. Tetapi kamu percaya apabila Allâh dipersekutukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allâh Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.
Nahwu Sorof lengkap qowaidul i'lal 20
Kaidah I'lal 7, Lafadz يَعِدُ Asalnya Lafadz يَضَعُ
اِذَا وَقَعَتِ الْوَاوُ بَيْنَ الْفَتْحَةِ وَالْكَسْرَةِ الْمُحَقَّقَةِ وَقَبْلَهَا حَرْفُ الْمُضَارَعَةِ، تُحْذَفُ، نَحْوُ يَعِدُ اَصْلُهُ يَوْعِدُ
Tatkala ada huruf wawu jatuh di antara harakat fathah dan harakat kasrah yang nyata dan huruf sebelumnya adalah huruf mudhara'ah, maka huruf wawu itu dibuang, contoh "يَعِدُ" asalnya "يَوْعِدُ".
Dari kaidah tersebut, maka kita boleh menyimpulkan bahwa :
1.Ada huruf wawu yang jatuh di antara 2 huruf (satu huruf berharakat fathah dan satunya lagi berharakat kasrah),
di mana kedua harakat itu nyata.
2.Huruf sebelum wawu adalah huruf mudhoro'ah
Maka huruf wawu tersebut harus dibuang.
Huruf mudlara'ah adalah huruf-huruf yang menjadi huruf awal disetiap fi'il mudhorik.
Ada empat huruf mudhoro'ah yang terkumpul dalam kalimat "نَأْتِيْ" yaitu ن (nun), أ (alif), ت (ta'), dan ي (ya').
I'lal Lafadz يَعِدُ .
Lafadz يَعِدُ asalnya adalah يَوْعِدُ mengikuti wazan يَفْعِلُ.
Berdasarkan kaidah 7 di atas, pada lafadz يَوْعِدُ, terdapat huruf yang terjatuh di antara 2 huruf yang berharakat fathah (ya') dan kasroh (ain), di mana huruf sebelum wawu adalah salah satu huruf mudhoro'ah yaitu ي, maka huruf wawu tersebut harus dibuang, sehingga berubah menjadi lafadz يَعِدُ.
Jadi :
Lafadz Asli يَوْعِدُ
Lafadz I'lal (Hasil)يَعِدُ
I'lal Lafadz يَضَعُ
Lafadz يَضَعُ asalnya adalah يَوْضِعُ mengikuti wazan يَفْعِلُ.
Berdasarkan kaidah 7 di atas, pada lafadz يَوْضِعُ, terdapat huruf yang terjatuh di antara 2 huruf yang berharakat fathah (ي) dan kasroh (ض), di mana huruf sebelum wawu adalah salah satu huruf mudhoro'ah yaitu ي, maka huruf wawu tersebut harus dibuang, sehingga berubah menjadi lafadz يَضِعُ.
Pada lafadz يَضِعُ, huruf ض harus difathah karena huruf tersebut merupakan salah satu huruf ithbaq dan huruf sesudahnya adalah huruf khalq yaitu ain, sehingga menjadi lafadz يَضَعُ.
Jadi :
Lafadz Asli يَوْضِعُ
Perubahan يَضِعُ
Lafadz I'lal (Hasil)يَضَعُ
Huruf ithbaq ada 4 yaitu ص, ض, ط dan ظ
Huruf khalq ada 6 yaitu أ ,ه, ح, ع , غ , dan خ

Selasa, 07 Januari 2025

 وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۖ

Dan Allah memiliki Asma'ul-husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asma'ul-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.

قُلِ ادْعُوا اللّٰهَ اَوِ ادْعُوا الرَّحْمٰنَۗ اَيًّا مَّا تَدْعُوْا فَلَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًا

Katakanlah (Muhammad), “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asma‘ul husna) dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam salat dan janganlah (pula) merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu.”

Al-Aqur'anul Karim Surat Alhasyr Ayat 24

هُوَ اللّٰهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۗ يُسَبِّحُ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْ حَاۤجَّ اِبْرٰهٖمَ فِيْ رَبِّهٖٓ اَنْ اٰتٰىهُ اللّٰهُ الْمُلْكَ ۘ اِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّيَ الَّذِيْ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۙ قَالَ اَنَا۠ اُحْيٖ وَاُمِيْتُ ۗ قَالَ اِبْرٰهٖمُ فَاِنَّ اللّٰهَ يَأْتِيْ بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِيْ كَفَرَ ۗوَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَۚ

Tidakkah kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim mengenai Tuhannya, karena Allah telah memberinya kerajaan (kekuasaan). Ketika Ibrahim berkata, “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” dia berkata, “Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata, “Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat.” Maka bingunglah orang yang kafir itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.

فَانْظُرْ اِلٰٓى اٰثٰرِ رَحْمَتِ اللّٰهِ كَيْفَ يُحْيِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَاۗ اِنَّ ذٰلِكَ لَمُحْيِ الْمَوْتٰىۚ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sungguh, itu berarti Dia pasti (berkuasa) menghidupkan yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنَّكَ تَرَى الْاَرْضَ خَاشِعَةً فَاِذَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاۤءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْۗ اِنَّ الَّذِيْٓ اَحْيَاهَا لَمُحْيِ الْمَوْتٰى ۗاِنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Dan sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya, engkau melihat bumi itu kering dan tandus, tetapi apabila Kami turunkan hujan di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya (Allah) yang menghidupkannya pasti dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّۗ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيْمُ

Katakanlah, “Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia Yang Maha Pemberi keputusan, Maha Mengetahui.”

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ لَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى

(Dialah) Allah, tidak ada tuhan selain Dia, yang mempunyai nama-nama yang terbaik.

اَللّٰهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۙوَّهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ

Allah pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.

Al-Aqur'anul Karim Surat Adz-Dzariyat (51) Ayat 58

اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ

Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.

Sabtu, 04 Januari 2025

SURAT AL-ANFAL AYAT 9-10

  SYUBHAT SURAT AL-ANFAL AYAT 9-10

(MADANIYYAH 75 AYAT)

BANTUAN PARA MALAIKAT DALAM PERANG BADAR, DIBERIKANNYA RASA KANTUK DAN TURUNNYA HUJAN

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ

وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ اِلَّا بُشْرٰى وَلِتَطْمَىِٕنَّ بِهٖ قُلُوْبُكُمْۗ وَمَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ

اِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعَاسَ اَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لِّيُطَهِّرَكُمْ بِهٖ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطٰنِ وَلِيَرْبِطَ عَلٰى قُلُوْبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْاَقْدَامَۗ

اِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ اِلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ اَنِّيْ مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ سَاُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوْا فَوْقَ الْاَعْنَاقِ وَاضْرِبُوْا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍۗ

ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ شَاۤقُّوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗۚ وَمَنْ يُّشَاقِقِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

ذٰلِكُمْ فَذُوْقُوْهُ وَاَنَّ لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابَ النَّارِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, “Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”9

اُذْكُرْ { إِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ } تَطْلُبُوْنَ مِنْهُ اْلغَوْثَ بِالنَّصْرِ عَلَيْهِمْ { فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّيْ } أَيْ بِأَنِّيْ { َّمُمِدُّكُمْ } مُعِيْنُكُمْ { بِأَلْفٍ مِنَ اْلمَلَائِكَةِ مُرْدِفِيْنَ } مُتَتَابِعِيْنَ يُرْدِفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا وَعَدَهُمْ بِهَا أَوَّلًا ثُم صَارَتْ ثَلَاثَةُ آلَافٍ ثُمَّ خَمْسَةٌ كَمَا فِي آلِ عِمْرَانَ وَقُرِئَ بِآلَفٍ كَأَفْلَسٍ جُمِعَ
009. (Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan Tuhanmu) ketika kamu meminta pertolongan dari-Nya untuk dapat mengalahkan orang-orang musyrik (lalu diperkenankan-Nya bagimu, "Sesungguhnya Aku) sungguh Aku pasti (memberikan bantuan kepadamu) akan menolongmu (dengan mendatangkan seribu malaikat yang datang berturut-turut") yakni mereka datang secara berturut-turut, sebagian dari mereka menyusul sebagian lainnya. Pada permulaannya Allah menjanjikan untuk mereka bantuan seribu malaikat, kemudian menjadi tiga ribu malaikat, hingga sampai lima ribu malaikat, seperti yang dijelaskan di dalam suroh Ali 'Imran. Menurut suatu qiroot lafal alfun dibaca aalaf seperti aflas dalam bentuk jamak.

وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ اِلَّا بُشْرٰى وَلِتَطْمَىِٕنَّ بِهٖ قُلُوْبُكُمْۗ وَمَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Dan tidaklah Allah menjadikannya melainkan sebagai kabar gembira agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.10
ٌ{ وَمَا جَعَلَهُ اللهُ } أَيْ اَلِْإمْدَادُ { إِلَّا بُشْرٰى وَلِتَطْمَئِنَّ بِهٖ قُلُوْبُكُمْ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللهِ إِنَّ اللهَ عَزِيْز حَكِيْمٌ }
010. (Dan Allah tidak menjadikannya) bala bantuan tersebut (melainkan sebagian berita gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).

اِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعَاسَ اَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لِّيُطَهِّرَكُمْ بِهٖ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطٰنِ وَلِيَرْبِطَ عَلٰى قُلُوْبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْاَقْدَامَۗ

(Ingatlah), ketika Allah membuat kamu mengantuk untuk memberi ketenteraman dari-Nya, dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu dan menghilangkan gangguan-gangguan setan dari dirimu dan untuk menguatkan hatimu serta memperteguh telapak kakimu (teguh pendirian).11
اُذْكُرْ { إِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً } أَمَنًا مِمّا حَصَلَ لَكُمْ مِنَ اْلخَوْفِ { مِنْهُ } تَعَالَى { وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِّيُطَهِّرَكُمْ بِهٖ } مِنَ اْلأَحْدَاثِ وَاْلجَنَابَاتِ { وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ } وَسْوَسَتُهُ إِلَيْكُمْ بِأَنَّكُمْ لَوْ كُنْتُمْ عَلَى اْلحَقِّ مَا كُنْتُمْ ظَمَأًى مُحْدِثِيْنَ وَاْلمُشْرِكُوْنَ عَلَى اْلمَاءِ { وَلِيَرْبِطَ } يُحْبِسُ { عَلَى ِقُلُوْبِكُمْ } بِاْليَقِيْنِ وَاْلصَبْرِ { وَيُثَبِّتُ بِهِ اْلأَقَدَامَ } أَنْ تَسُوْخَ فِي الرَّمْل
011. (Ingatlah, ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteram) untuk menenteramkan hatimu dari rasa takut yang menimpa dirimu (daripada-Nya) Allah Yang Maha Tinggi (dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu) dari hadas dan jinabah itu (dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan) godaan setan dari dirimu yang mengatakan bahwasanya jika kamu berada dalam jalan kebenaran, niscaya kamu tidak akan kehausan lagi berhadas sedang kaum musyrikin berada dekat air (dan untuk menguatkan) mengokohkan (hatimu) dalam keyakinan dan kesabaran (dan memperteguh dengannya telapak kakimu) agar telapak kakimu berdiri tegar di padang pasir.

اِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ اِلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ اَنِّيْ مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ سَاُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوْا فَوْقَ الْاَعْنَاقِ وَاضْرِبُوْا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍۗ

(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.” Kelak akan Aku berikan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka pukullah di atas leher mereka dan pukullah tiap-tiap ujung jari mereka.12
{ إِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ إِلَى اْلمَلَائِكَةِ } الَّذِيْنَ أَمَدَ بِهِمُ اْلمُسْلِمِيْنَ { أَنِّيْ } أَيْ بِأَنِّيْ { مَعَكُمْ } بِاْلعَوْنِ وَالنَّصْرِ { فَثَبِّتُوْا الَّذِيْنَ آمَنُوْا } بِاْلإِعَانَةِ وَالتَّبْشِيْرِ { سَأُلْقِيْ فِي قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا الرُّعْبَ } اَلْخَوْفُ { فَاضْرِبُوْا فَوْقَ اْلأَعْنَاقِ } أَيْ اَلرُّؤُوْسِ { وَاضْرِبُوْا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ } أَيْ أَطْرَافُ اْليَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ فَكَانَ الرَجُلُ يَقْصِدُ ضَرْبَ رَقَبَةِ اْلكَافِرِ فَتَسْقُطُ قَبْلَ أَنْ يَصِلَّ إِلَيْهِ سَيْفُهُ وَرَمَاهُمْ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ بِقَبْضَةٍ مِنَ اْلحِصِ فَلَمْ يَبْقَ مُشْرِكٌ إِلَّا دَخَلَ فِي عَيْنِيْهِ مِنْهَا شَيْءٌ فَهَزَمُوْا
012. (Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat) yang diperbantukan kepada kaum Muslimin ("Sesungguhnya Aku) bahwasanya Aku (bersama kamu) memberikan pertolongan dan bantuan (maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang telah beriman) dengan memberikan pertolongan kepada mereka dan mengabarkan berita gembira. (Kelak Aku akan timpakan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir) ketakutan yang sangat (maka penggallah leher mereka) kepala mereka (dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka) ujung-ujung jari tangan dan kaki. Dikatakan bahwa dalam perang itu jika seseorang muslim hendak memukul kepala si kafir tiba-tiba kepala itu sudah jatuh menggelinding sendiri sebelum pedangnya sampai kepadanya. Dan Rosulullah saw. melempar mereka dengan segenggam batu kerikil, maka tidak ada seorang musyrik pun yang luput matanya dari lemparan batu kerikil itu, akhirnya mereka kalah.

ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ شَاۤقُّوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗۚ وَمَنْ يُّشَاقِقِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

(Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, sungguh, Allah sangat keras siksa-Nya.13
{ ذٰلِكَ } اَلْعَذَابُ اْلوَاقِعُ بِهِمْ { بِأَنَّهُمْ شَاقُّوْا } خَالَفُوْا اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَمَنْ يُشَاقِقِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَإِنَّ اللهَ شَدِيْدُ اْلعِقَاب } لَهُ
013. (Yang demikian itu) azab yang menimpa mereka itu (adalah karena sesungguhnya mereka menentang) melawan (Allah dan rosul-Nya; dan barang siapa menentang Allah dan rosul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya) terhadapnya.

ذٰلِكُمْ فَذُوْقُوْهُ وَاَنَّ لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابَ النَّارِ

Demikianlah (hukuman dunia yang ditimpakan atasmu), maka rasakanlah hukuman itu. Sesungguhnya bagi orang-orang kafir ada (lagi) azab neraka.14
{ ذٰلِكُمْ } اَلْعَذَابُ { فَذُوْقُوْهُ } أَيَّهَا اْلكُفَّارُ فِي الدُّنْيَا { وَأَنَّ لِلْكَافِرِيْنَ } فِي اْلآخِرَةِ { عَذَابُ النَّارِ }
014. (Itulah) hukuman yang ditimpakan atasmu (maka rasakanlah hukuman itu) hai orang-orang kafir, sebagai hukuman di dunia (sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu) kelak di hari kemudian (azab neraka").
Sebab Turunnya Ayat
Imam Ahmad, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Jarir dan Imam Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Umar bin Khoththob, ia berkata, "Di saat Perang Badar, Nabi S.A.W memandangi para sohabatnya. Jumlah mereka hanya tiga ratus beberapa belas orang saja. Siapa saja di antara para shohabat yang ikut dalam perang BadarImam Al-Hafidh Ibnu Hajar rohimahullah menyebutkan dalam kitab Fathul Bari Bi Syarhish Shohihil Bukhori 9/83, dan Imam Al-Hafidh Dhiyauddin Al-Maqdisi rohimahullah dalam kitab Al-Ahkaam, begitu juga dalam kitab ‘Uyunul-Atsar karangan Ibnu Sayyidinnas rohimahullahmereka adalah di antarnya: 1. Abdullah bin ‘Utsman Abu Bakar Ash-Shiddiq2. ‘Umar bin Al-Khoththob Al-‘Adawi. 3. ‘Utsman bin ‘Affan Al-Quroisyi (walaupun tidak berada di medan pertempuran, tetapi Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam memberinya bagian dari harta rampasan, karena beliau Shollallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk menjaga putri beliau). 4. ‘Ali bin Abi Tholib Al-Hasyimi5. Iyas bin Al-Bukair. 6. Bilal bin Robbah. 7. Hamzah bin Abdil-Muththolib. 8. Hothib bin Abi Balta’ah. 9. Abu Hudzaifah bin Utbah bin Robi’ah Al-Quroisyi. 10. Haritsah bin Ar-Rubayyi’ (Ibnu Suroqah) Al-Anshori. 11. Khubaib bin ‘Adi Al-Anshori. 12. Khunais bin Hudzafah As-Sahmi. 13. Rifa’ah bin Rofi Al-Anshori14. Rifa’ah bin Abdil-Mundzir Abu Lubabah Al-Anshori. 15. Az-Zubair bin Al ‘Awwam Al-Quroisyi. 16. Zaid bin Sahl Abu Tholhah Al-Anshori. 17. Abu Zaid al-Anshori. 18. Sa’ad bin Abi Waqqosh Az-Zuhri. 19. Sa’ad bin Khaulah Al-Qurasyi. 20. Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail Al-Quroisyi. 21. Sahl bin Hunaif Al-Anshori. 22. Zhuhair bin Rofi’ Al-Anshori dan saudara laki-lakinya. 23. ‘Abdullah bin Mas’ud Al-Hudzali. 24. ‘Utbah bin Mas’ud Al-Hudzali (saudara ‘Abdullah bin Mas’ud). 25. ‘Abdur-Rohman bin ‘Auf Az-Zuhri. 26. ‘Ubaidah bin Al Harits Al-Quroisyi. 27. ‘Ubadah bin Ash-Shoomit Al-Anshori. 28. ‘Amr bin ‘Auf. 29. ‘Uqbah bin ‘Amr Abu Mas’ûd Al-Badri Al-Anshori. 30. ‘Amir bin Robi’ah Al-‘Anazi. 31. ‘Ashim bin Tsabit Al-Anshori. 32. ‘Uwaim bin Sa’idah Al-Anshori. 33. ‘Itban bin Malik Al-Anshori. Sambil Memandangi para shohabat Rosulullah S.AW seraya berdoa:
اَللّٰهُمَّ اَنْجِزْلِى مَاوَعَدْتَنِىاَللّٰهُمَّ اِنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَمِنْ اَهْلِ الْاِسْلَامِ, فَلَاتُبَدُفِى الْاَرْضِ اَبَدًا
"Ya Allah, penuhilah apa yang pernah Engkau janjikan padaku. Ya Allah, jika engkau binasakan kelompok kaum Muslimin ini niscaya Engkau tidak akan pernah disembah lagi di bumi ini."
Sayyidina Umar bin Khoththob melanjutkan, "Nabi S.A.W terus berdoa dan memohon pertolongan kepada Tuhannya sampai-sampai sorbannya jatuh dari bahunya. Kemudian datang Sayidina Abu Bakar Ash-Shidiq lalu ia mengambil sorban tersebut dan mengembalikannya ke tempatnya (meletakkan ke atas bahunya). Kemudian ia berdiri di belakang Nabi S.A.W. dan berkata, 
ُيَا نَبِيَّ اللهِ حَسْبُكَ أَنْ تَسْأَلَ رَبَّكَ فَإِنَّهُ سَيُنْجَزُ لَكَ وَعْدُه
"Wahai Nabi Allah, cukuplah engkau memohon pada Tuhanmu, sesungguhnya Dia pasti akan menepati janji-Nya padamu." Setelah itu Allah S.W.T menurunkan firman-Nya, dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 9

اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, “Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”9
Perang Badar di sebut juga Yaumul-Furqon. Itulah nama lain untuk menyebut hari berkecamuknya perang yang pertama kali dalam Islam, yaitu perang Badar. Meskipun bukan peperangan yang besar, namun sangat menentukan perjalanan sejarah Islam. Karenanya dalam Al-Qur`an disebut Yaumul-Furqon, yaitu hari kebenaran menaklukkan kebatilan. Seperti disebutkan dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 41:
وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَاَنَّ لِلّٰهِ خُمُسَهٗ وَلِلرَّسُوْلِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ اِنْ كُنْتُمْ اٰمَنْتُمْ بِاللّٰهِ وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Dan ketahuilah, sesungguhnya segala yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil, (demikian) jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Di hari itu juga kedua pasukan saling berhadapan dan Allah S.W.T mengalahkan pasukan musyrik. Dari mereka terbunuh sebanyak tujuh puluh orang dan tertawan sebanyak tujuh puluh orang juga.(Tafsir Ar-Rozi 15 /139, Tafsir lbnu Katsir 2/289).
Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa meminta bantuan kepada Allah dilakukan oleh beberapa orang beriman karena rasa takut mereka lebih hebat daripada rasa takut Rosul. Namun, pendapat yang lebih tepat adalah Nabi S.A.W berdoa dan bermohon seperti yang diriwayatkan sementara orangorang beriman lainnya mengaminkan doanya dan berdoa juga di dalam diri mereka, tapi yang dinukilkan adalah doa Rosul dan bukan doa mereka.
Pada peperangan itu kaum Muhajiriin harus berhadapan dengan orang-orang yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan mereka. Seperti Abu Jahal, Amr bin Hisyam, Walid bin Utbah, Syaibah bin Rabi'ah, dan Umayyah bin KholafAl-Aswad bin ‘Abdul-Asad Al-Makhzumi dari Bani Makhzum yang berhadapan dengan Hamzah bin Abdul Muthalib. Hamzah pun berhasil mengalahkan Al-Aswad. Pertemuan di medan peperangan yang harus memilih antara membunuh atau dibunuh. Sementara itu, kaum Anshor yang telah mendeklarasikan kesetiaan kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam , mereka tidak lagi membatasi pembelaan dengan butir-butir pada Baiat ‘Aqobah yang kedua semata. Yaitu pembelaan di wilayah Madinah saja. Akan tetapi mereka siap membela aqidah Islamiyyah tanpa syarat. Jumlah kaum Muhajiriin lebih dari 60 sekian orang. Sedangkan jumlah kaum Anshor lebih dari 240 sekian sahabat. Yang totalnya menurut riwayat kaum muslimin hanya berjumlah 313 prajurit dan 70 unta serta beberapa kuda saja. Sedangkan kaum kafir quroisy berjumlah 1.300 pasukan yang terdiri dari 1.000 pasukan, 600 di antaranya memakai baju besi, 300 kuda, 700 unta, dan dilengkapi dengan persenjataan lengkap.
Dan Perang Badar terjadi pada tgl 17 Ramadan tahun ke-2 Hijriah, atau bertepatan dengan 13 Maret 624 Masehi.
Badar merupakan nama suatu tempat yang terletak antara Makkah dan Madinah yang memiliki sumber mata air. Peperangan pertama yang dilakukan oleh kaum Muslimin terjadi di wilayah Badar yang pada akhirnya dikenal dengan istilah Perang Badar.Ramadhan menjadi bulan bersejarah terjadinya Perang Badar. Pertempuran yang terjadi antara kaum Muslimin dengan kaum kafir Quroisy tersebut berlangsung mana kala pasukan Islam tengah berpuasa.
Dalam Fiqhus-Siroh karya Muhammad Al-Ghozali diceritakan, bahwa tersiar berita di Madinah tentang adanya sebuah kafilah besar kaum kafir Quraish yang dipimpin Abu Sufyan berangkat meninggalkan Syam. Kafilah dagang tersebut akan bertolak ke Makkah untuk pulang.Dalam perjalanannya, mereka membawa barang dagangan yang sangat besar nilainya. Terdapat seribu ekor unta yang penuh dengan muatan barang berharga, bahkan dalam satu riwayat disebutkan para unta memuat kurang lebih 50.000 dinar emas. Kafilah tersebut berjumlah tidak lebih dari 30 sampai 40 orang.
Terdapat beberapa sebab yang memicu lahirnya Perang Badar. Setidaknya terdapat tiga sebab, yaitu:
Pertama, pengusiran terhadap umat Islam dari Makkah. Selain mengalami pengusiran, umat Islam tidak jarang diperlakukan buruk dengan ditindas, didholimi bahkan dirampas harta bendanya oleh kaum kafir Quraish.
Kedua, penindasan yang diterima oleh umat Islam. Kendati telah melakukan hijroh ke Madinah, penindasan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraish masih dialami umat Islam. Kaum Muslimin yang berdagang kerap disiksa dan dirampas barang dagangannya.
Ketiga, sebagai pelajaran kepada kaum kafir Quraisy. Perang Badar lahir salah satunya disebabkan perilaku keji kaum kafir Qurasih. Oleh sebab itu, Rosulullah mempersiapkan umat Islam untuk memberi pelajaran kepada kafilah dagang Quroisy yang akan bertolak ke Makkah.
Ahli Badar, yaitu para sahabat yang berlaga di medan peperangan Badir ini sangat pantas memperoleh penghormatan yang tinggi. Sampai akhirnya gelar Al-Badri ( الْبَدْرِيُّ ), yang menunjukkannya sebagai bagian dari pasukan Muslimin di perang Badar pun melekat pada setiap nama-nama mereka. Al-Qur`an juga mengabadikan kegigihan para Ahli-Badr dalam memperjuangkan agama di hadapan kaum musyrikin, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur'anul Karim surat Ali ‘Imron(3) ayat 123-127 dan surat Al-Anfal secara umum.
Al-Qur'anul Karim surat Ali ‘Imron(3) ayat 123-127:
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّٰهُ بِبَدْرٍ وَّاَنْتُمْ اَذِلَّةٌ ۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Dan sungguh, Allah telah menolong kamu dalam perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, agar kamu mensyukuri-Nya.
Al-Qur'anul Karim surat Ali ‘Imron(3) ayat 124:
اِذْ تَقُوْلُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ اَلَنْ يَّكْفِيَكُمْ اَنْ يُّمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلٰثَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُنْزَلِيْنَۗ
(Ingatlah), ketika engkau (Muhammad) mengatakan kepada orang-orang beriman, “Apakah tidak cukup bagimu bahwa Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?”
Al-Qur'anul Karim surat Ali ‘Imron(3) ayat 125:
بَلٰٓى ۙاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا وَيَأْتُوْكُمْ مِّنْ فَوْرِهِمْ هٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُسَوِّمِيْنَ
“Ya” (cukup). Jika kamu bersabar dan bertakwa ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.
Al-Qur'anul Karim surat Ali ‘Imron(3) ayat 126:
وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ اِلَّا بُشْرٰى لَكُمْ وَلِتَطْمَىِٕنَّ قُلُوْبُكُمْ بِهٖ ۗ وَمَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِۙ
Dan Allah tidak menjadikannya (pemberian bala-bantuan itu) melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar hatimu tenang karenanya. Dan tidak ada kemenangan itu, selain dari Allah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
Al-Qur'anul Karim surat Ali ‘Imron(3) ayat 127:
لِيَقْطَعَ طَرَفًا مِّنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَوْ يَكْبِتَهُمْ فَيَنْقَلِبُوْا خَاۤىِٕبِيْنَ
(Allah menolong kamu dalam perang Badar dan memberi bantuan) adalah untuk membinasakan segolongan orang kafir, atau untuk menjadikan mereka hina, sehingga mereka kembali tanpa memperoleh apa pun.
Dalam perang tersebut, Haritsah bin Suroqah bin Al Harits gugur. Lantas sang ibu, Rubayyi’ binti An-Nadhor, bibi Anas bin Malik Rodhiyallahu anhuma menemui Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam untuk menanyakan kondisi anaknya kelak, apakah berada di surga sehingga dirinya akan bersabar dan rela, atau berada dalam kondisi yang lain? Demikian pertanyaan dari si ibu. Maka Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa Haritsah tidak hanya berada di satu surga, akan tetapi berada di sekian banyak surga.
Keutamaan para Ahli Badri juga tersirat pada kisah sahabat Hathib bin Abi Balta’ah saat ia mencoba membocorkan rencana penyerangan ke Makkah. Sehingga Sahabat ‘Umar menganggap perbuatan tersebut sebagai pengkhianatan. Oleh karenanya, ia pantas dibunuh. Mendengar kekecewaan ‘Umar bin Al-Khoththob, maka Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan:
فَقَالَ أَلَيْسَ مِنْ أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ لَعَلَّ اللَّهَ اطَّلَعَ إِلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ وَجَبَتْ لَكُمْ الْجَنَّةُ أَوْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ فَدَمَعَتْ عَيْنَا عُمَرَ وَقَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ
“Bukankah ia (Haathib) itu termasuk yang ikut perang Badar? Dan Allah telah menyaksikan Ahli Badar, seraya berfirman: ‘Berbuatlah apa yang kalian kehendaki, sungguh surga telah pasti bagi kalian’, atau dalam riwayat lain: ‘Aku telah mengampuni kalian’.” (HR. Al-Bukhori, kitab Al-Maghozi bab Fadhlu man Syahida Badron, hadits no. 3983. Muslim, kitab Fadhoili Ash-Shohabah, Bab: Min Fadloili Ahli Badrin wa Qishshoti Hathib ibni Abi Balta’ah, no. 4550)
Oleh karenanya, untuk memberi penghormatan kepada mereka, maka pada masa pemerintahan ‘Umar Bin Khoththob, para Ahli Badar ini ditempatkan pada posisi tertinggi dalam daftar nama keprajuritan. Yang juga berarti memperoleh tunjangan yang besar dari negara.
Persesuaian Ayat 
Setelah Allah S.W.T menjelaskan di ayat sebelumnya bahwa Dia akan memenangkan yang benar (haq) dan mengalahkan yang bathil, dalam ayat ini, Dia menjelaskan bahwa Dia membantu mereka ketika mereka meminta pertolongan. firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 8:
لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُوْنَۚ
agar Allah memperkuat yang hak (Islam) dan menghilangkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.
l'roob
اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ Kalimat ini adalah badal dari kata اِذْ dalam potongan ayat: اِذْ يَعِدُكُمُ  yang ada pada firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 7:
وَاِذْ يَعِدُكُمُ اللّٰهُ اِحْدَى الطَّاۤىِٕفَتَيْنِ اَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّوْنَ اَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُوْنُ لَكُمْ وَيُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمٰتِهٖ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكٰفِرِيْنَۙ
Dan (ingatlah) ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah untukmu. Tetapi Allah hendak membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir sampai ke akar-akarnya,
الْبَدَلُ
BAB BADAL
التَّابعُ المَقْصُودُ بالْحُكْمِ بلا  *** وَاسِطَةٍ هُوَ المُسَمَّى بَدَلا
Tabi' yang mempunyai maksud sama (dengan matbu'nya), memakai perantara, dinamakan badal
مُطَابِقَاً أَو بَعْضَاً أَو مَا يَشْتَمِل   *** عَلَيْهِ يُلفَى أَو كَمَعْطُوفٍ بِبَل
Sebagai badal muthobiq, atau badal ba'dli, atau badal isytimal, atau badal seperti makna lafadh yang di-athof-kan dengan bal.
وَذَا لِلاضْرَابِ اعْزُ إِنْ قَصْدَاً صَحِبْ  *** وَدُونَ قَصْدٍ غَلَطٌ بِهِ سُلِبْ
Yang terakhir ini namakanlah badal idlrob, apabila disertai de- ngan maksud, dan apabila tidak disertai dengan maksud, maka dikategorikan sebagai badal gholath.
كَزُرْهُ خَالِدَاً وَقَبِّلهُ اليَدَا   ***  وَاعْرِفْهُ حَقَّهُ وَخُدْ نَبْلاً مُدَى
seperti: "zurhu khoolidan" (kunjungilah dia yakni khalid), qobbilhul yadaa (ciumlah dia tangannya), a'rifhu haqqohu (hargailah dia yakni haknya), khudz nablan mudaa (ambillah panah yakni pisau).
وَمِنْ ضَمِيْرِ الحَاضِرِ الظَّاهِرَ لاَ  *** تُبْدِلهُ إلاَّ مَا إِحَاطَةً جَلاَ
Terhadap dlomir yang hadir janganlah menggantikannya (mem- buat badal untuknya) dengan isim dhohir, kecuali maknanya jelas menunjukkan ihaathoh (meliputi),
أوِ اقْتَضَى بَعْضَاً أَوِ اشْتِمَالاَ  *** كََّانكَ ابْتِهَاجَكَ اسْتَمَالاَ
atau menunjukkan makna badal ba'dli, atau badal isytimal, contoh "Innaka ibtihaajakas timaalaa" (sesungguhnya kamu, yakni dibalik kecerahanmu itu minta belas kasihan).
وَبَدَلُ المُضَمَّنِ الهَمْزَ يَلِي  *** هَمْزَاً كَمَنْ ذَا أَسَعِيْدٌ أَمْ عَلِي
Badal yang mengandung hamzah istifham harus diikuti oleh ham- zah-istifham pula (mubdal minhu-nya) contoh "man dzaa Asa'iidun am-'Ali" (Siapakah ini, Sa'id atau 'Ali?).
وَيُبْدَلُ الفِعْلُ مِنَ الفِعْلِ كَمَنْ  *** يَصِل إِلَيْنَا يَسْتَعِنْ بِنَا يُعَنْ
Fi'il dapat diganti oleh fi'il lainnya, contoh "Man yashil ilainaa yasta'in binaa yu'an (Barang siapa yang sampai kepadaku meminta tolong kepadaku, niscya ia akan mendapat pertolongan).
بِاَلْفٍ Posisinya adalah manshuub oleh kalimat مُمِدُّكُمْ. Ada juga yang membacanya dengan بِاَلٓافٍ  bentuk jamak dari kata اَلْفٌ karena timbangan/mengikuti wazan فَعْلٌ timbangan/wazan dalam bentuk jamaknya adalah اَفْعَلٌ seperti فَلْسٌ jamaknya adalah اَفْلَسٌ dan كََلْبٌ jamaknya adalah اَكْلَبٌ Bacaan ini dikuatkan oleh potongan ayat: بِخَمْسَةِ اٰلَافٍ dalam firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim surat Ali 'Imron ayat 125:
بَلٰٓى ۙاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا وَيَأْتُوْكُمْ مِّنْ فَوْرِهِمْ هٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُسَوِّمِيْنَ
“Ya” (cukup). Jika kamu bersabar dan bertakwa ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.
Kata اٰلَافٍ  adalah bentuk jamak dari اَلْفٌ untuk bilangan di bawah sepuluh dan pada ayat بِخَمْسَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ ia menjadi sifat bagi kata اَلْفٌ.
جَمْعُ الْتَّكْسِيْر
Bab Jama’ Taksir
أَفْعِلَةٌ أَفْعُلُ ثُمَّ فِعْلَهْ *** ثُمَّتَ أَفْعَالٌ جُمُوْعُ قِلَّةْ
Wazan af'ilatun, af'ulun, lalu fi'latun kemudian af'aalun semuanya adalah bentuk jamak qillah.
وَبَعْضُ ذِي بِكَثْرَةٍ وَضْعَاً يَفِي ***  كَأَرْجُلٍ وَالْعَكْسُ جَاءَ كَالْصُّفِي
Sebagian di antara bentuk jamak qillah terkadang dianggap cukup sebagai pengganti jamak katsroh, seperti lafadh arjulun; terkadang kebalikannya pun ada pula seperti lafadh shufi.
لِفَعْلٍ اسْمَاً صَحَّ عَيْنَاً أَفْعُلُ ***  وَلِلْرُّبَاعِيِّ اسْمَاً أَيْضَاً يُجْعَلُ
Bagi isim yang berwazan fa'il dan shohih 'ain-nya wazan af'ulun, dan bagi isim yang ruba'ii wazan ini dapat dijadikan pula sebagai jamaknya,
إِنْ كَانَ كَالْعَنَاقِ وَالْذِّرَاعِ فِي ***  مَدَ وَتأْنِيْثٍ وَعَدِّ الأَحْرُفِ
 yaitu apabila isim ruba'ii tersebut seperti lafadh 'anaaqun dan dzi roo'un dalam hal dibaca panjang, bentuk ta-nits, dan bilangan hurufnya.
وَغَيْرُ مَا أَفْعُلُ فِيْهِ مُطَّرِدْ  *** مِنَ الْثُّلاَثِي اسْمَاً بِأَفْعَالٍ يَرِدْ
Selain lafadh yang dapat diberlakukan terhadap wazan af'ulun dian tara isim tsulatsii, maka bentuk jamaknya adalah wazan af'aalun
وَغَالِبَاً أَغَنَاهُمُ فِعْلاَنُ ***  فِي فُعَلٍ كَقَوْلِهِمْ صِرْدَانُ
 Tetapi sebagian besar wazan fi'laanu dapat mencukupi mufrad yang berwazan fu'alun, seperti dalam perkataan mereka shirdaanu
فِي اسْمٍ مُذكَّرٍ رُبَاعِيَ بِمَدّ ***  ثَالِثٍ أفْعِلَةُ عَنْهُمُ اطَّرَدْ
isim mudzakkar yang ruba'ii dengan huruf nomor tiga yang dipanjangkan, bentuk jamaknya diberlakukan oleh mereka dengan memakai wazan af'ilatun.
وَالْزَمْهُ فِي فَعَالٍ أوْ فِعَالِ  *** مُصَاحِبَيْ تَضْعِيْفٍ أوْ إِعْلاَلٍ
Dan tetapkanlah wazan ini terhadap wazan fa'aalun atau fi'aalun, sebagai bentuk jamak dari isim yang mudlo'af atau mu'tal.
فُعْلٌ لِنَحْوِ أَحْمَرٍ وحَمْرَا  *** وَفِعْلَةٌ جَمْعَاً بنَقْلٍ يُدْرَى
Wazan fu'lun untuk jamak lafadh seperti ahmara dan hamraa. Wazan fi'latun merupakan bentuk jamak yang telah diketahui melalui dalil naqlii
وَفُعُلٌ لاسْمٍ رُبَاعِيٍّ بِمَدّ قَدْ ***  زِيْد قَبْلَ لاَمٍ اعْلاَلاً فَقَدْ
Wazan fu'ulun adalah bentuk jamak dari fi'il ruba'ii, sebelum lam nya ditambahkan huruf madd, huruf akhirnya terbebas dari huruf illat,
مَا لَمْ يُضَاعَفْ فِي الأَعَمِّ ذُو الأَلِفْ ***  وَفُعَلٌ جَمْعَاً لِفُعلَةٍ عُرِفْ
Selagi isim yang mempunyai alif tersebut tidak di-mudlo'af kan (tidak ditasydidkan). Wazan fu'alun berlaku sebagai bentuk jamak dari fu'latun,
وَنَحْوِ كُبْرَى وَلِفِعْلَةٍ فِعَلْ ***  وَقَدْ يَجِيءُ جَمْعُهُ عَلَى فُعَلْ
 Yaitu seperti lafaz kubroo. Bagi wazan fi'latun bentuk jamak yang berwazan fi'alun, terkadaang jamaknya diungkapkan kedalam bentuk  wazan fu'alun.
فِي نَحْوِ رَامٍ اطِّرَادٍ فُعَلَهْ ***  وَشَاعَ نَحْوُ كَامِلٍ وَكَمَلَهْ
Untuk semacam lafadh "roomin" menurut patokan bentuk jamaknya berwazan "fu'alatun". Telah terkenal untuk semacam lafadh "kaami lun" bentuk jamaknya berwazan "kamalatun"
فَعْلَى لِوَصْفٍ كَقَتِيْلٍ وَزَمِنْ ***  وَهَالِكٍ وَمَيِّتٌ بِهِ قَمِنْ
Wazan fa'laa untuk washf seperti lafadh qotilun. Lafadh zaminun haalikun dan mayyitun terkandung pula dalam wazan ini
لِفُعْلٍ اسْمَاً صْحَّ لاَمَاً فِعَلَهْ ***  وَالْوَضْعُ فِي فَعْلٍ وَفِعْلٍ قَلَّلَهْ
Bagi isim yang berwazan fu'lun yang shohih lam-nya, bentuk jamak nya berwazan fi'alatun, dan bagi isim yang berwazan fi'lun dan fa' lun bentuk jamak wazan ini (fi'alatun) dianggap jarang.
وَفُعَّلٌ لِفَاعِلٍ وَفَاعِلَهْ  *** وَصْفَيْنِ نَحْوُ عَاذِلٍ وَعَاذِلَهْ
Wazan fu' 'alun adalah bentuk jamak isim yang berwazan faa'ilun dan faa'ilatun kedua-duanya merupakan washfi, seperti lafadh 'aadzi-lun dan aadzilatun.
وَمِثْلُهُ الْفُعَّالُ فِيْمَا ذُكِّرَا ***  وَذَان فِي الْمُعَلِّ لاَمَاً نَدَرَا
sama dengan fu' 'alun wazan fu'aalun yang diperuntukkan bagi isim mudzakkar; kedua wazan tersebut jarang dijumpai dalam isim yang mu'tal lam-nya.
فَعْلٌ وَفَعْلَةٌ فِعَالٌ لَهُمَا ***  وَقَلَّ فِيْمَا عَيْنُهُ الْيَا مِنْهُمَا
Wazan falun dan fa'latun keduanya bentuk jamak berrwazan fi'a lun; tetapi jamak ini jarang dijumpai dalam lafadh yang mu'tal 'ain berupa huruf ya dari keduanya.
وَفَعَلٌ أَيْضَاً لَهُ فِعَالُ  *** مَا لَمْ يَكُنْ فِي لاَمِهِ اعْتِلاَلُ
lafadh fa'alun juga jamaknya berwazan fi'aalun selagi lam-nya yang bukan huruf 'illat,
أَوْ يَكُ مُضْعَفَاً وَمِثْلُ فَعَلِ  *** ذُو الْتَّا وَفِعْلٌ مَعَ فُعْلٍ فَاقْبَلِ
atau bukan mudlo'af. Sama dengan fa'alun yaitu lafadh fa'alatun dengan memakai ta, dan terima pulalah jamak wazan ini untuk lafadh yang berwazan fulun serta fi'lun
وَفِي فَعِيْلٍ وَصْفَ فَاعِلٍ وَرَدْ  *** كَذَاكَ فِي أنْثَاهُ أَيْضَاً اطَّرَدْ
Wazan ini (fi'aalun) berlaku pula untuk isim yang berwazan fa'ilun bentuk washfi dari faa'ilun, demikian pula terhadap bentuk mutsanna-nya dapat diberlakukan wazan ini.
وَشَاعَ فِي وَصْفٍ عَلَى فَعْلاَنَا  *** أَوْ أُنْثَيَيْه أَوْ عَلَى فُعْلاَنَا
Wazan fi'aalun terkenal pula sebagi bentuk jamak dari washof ber-wazan fa'laanun, atau bentuk muannats-nya fa'laanatun., atau berwazan fulaanun.
وَمِثْلُهُ فُعْلاَنَةً وَالْزَمْهُ فِي ***  نَحْوِ طَوِيْلٍ وَطَوِيْلَةٍ تَفِي
Sama dengan wazan fu'laanun yaitu wazan fu'laanatun. Tetapkanlah jamak ini dalam lafadh seperti thowiilun dan thowiilatun, maka hal ini sudah dianggap cukup.
وَبِفُعُوْلٍ فَعِلٌ نَحْوُ كَبِدْ ***  يُخَصُّ غَالِبَاً كَذَاكَ يَطَّرِدْ
Dengan wazan fu'uulun lafadh yang berwazan fa'ilun di-jamak-kan seperti lafadh kabidun, hal ini umumnya merupakan suatu hal yang khusus baginya. Demikian puila wazan ini dapat diberlakukan,
فِي فَعْلٍ اسْمَاً مُطْلَقَ الْفَا وَفَعَلْ ***  لَهُ وَلِلْفُعَالِ فِعْلاَنٌ حَصَلْ
terhadap lafadh yang berwazan fa'lun sebagai isim yang fa-nya dapat dibaca tiga bacaan. Lafadh fa'alun dapat dijamakkan dengan wazan fu'uulun. Bagi wazan fu'aalun bentuk jamaknya adalah fi'laanun.
وَشَاعَ فِي حُوْتٍ وَقَاعٍ مَعَ مَا ***  ضَاهَاهُمَا وَقَلَّ فِي غَيْرِهِمَا
 Telah terkenal pada lafadh huutun dan qaa'un serta lafadh lainnya yang serupa bentuk jamak wazan ini (filaanun); tetapi sedikit dalam selain keduanya.
وَفَعْلاً اسْمَاً وَفَعِيْلاً وَفَعَلْ  *** غَيْرَ مُعَلِّ الْعَيْنِ فُعْلاَنٌ شَمَلْ
Isim yang berwazan fa'lun dan fa'iilun serta fa'alun yang ain-nya tidak mu'tal tercakup pula ke dalam jamak yang berwazan fulaanun.
وَلِكَرِيْمٍ وَبَخِيْلٍ فُعَلاَ ***  كَذَا لِمَا ضَاهَاهُمَا قَدْ جُعِلا
Bagi lafadh kariimun dan bakhiilun jamak yang berwazan fu'alaa demikian pula bagi lafadh-lafadh yang menyamai keduanya, bentuk ja mak ini dapat dipakai untuknya.
وَنَابَ عَنْه أَفْعِلَاء فِي المُعَلّ ***  لاَمَاً وَمُضْعَفٍ وَغَيْرُ ذَاكَ قَلّ
Wazan af'ilaa-u menggantikan kedudukan fu'alaa-u bagi isim yang mu'tal 'ain-nya dan yang di-mudlo'af-kan; ada pun selain hal tersebut sedikit pemakaiannya.
فَوَاعِلٌ لِفَوْعَلٍ وَفَاعَلِ ***  وَفَاعِلاء مَعَ نَحْوِ كَاهِل
Wazan fawaa'ilun adalah bentuk jamak untuk lafadh yang berwazan fau'alun, faa'ilun, faa'ilaa-u dan hal yang seperti lafadh kaahilun,
وَحَائِضٍ وَصَاهِلٍ وَفَاعِلَهْ ***  وَشَذَّ فِي الْفَارِسِ مَعْ مَا مَاثَلَهْ
dan lafadh haaidlun, shoohilun, dan juga untuk lafadh yang berwazan faa'ilatun. Bentuk jamak ini dianggap syadz untuk lafadh faarisun beserta lafadh-lafadh yang semisal dengannya
وَبِفَعَائِلَ اجْمَعْنَ فَعَالَهْ ***  وَشِبْهَهُ ذَا تَاءٍ أوْ مُزَالَهْ
Dengan memakai wazan fa'aaila jamak-kanlah lafadh yang berwazan fa'aalatun dan yang serupa dengannya, baik yang mempunyai ta maupun yang tidak mempunyai ta
وَبِالْفَعَالِي وَالْفَعَالَى جُمِعَا صَحْرَاءُ ***  وَالْعَذْرَاءُ وَالْقَيْسَ اتْبَعَا
Dengan memakai wazan fa'aalii dan fa'aalaa lafadh shohroo-u dan lafadh 'adzroo-u di-jamak-kan, kiaskanlah kedua wazan ini.
وَاجْعَلْ فَعَالِيَّ لِغَيْرِ ذِي نَسَبْ ***  جُدِّدَ كَالْكُرْسِيِّ تَتْبَعِ الْعَرَبْ
Jadikanlah wazan "fa'aaliyya" untuk selain isim yang tidak diperbarui oleh nasab, seperti lafadh "kursiyyun", berarti mengikuti cara orang-orang Arob.
وَبِفَعَالِلَ وَشِبْهِهِ انْطِقَا ***  فِي جَمْعِ مَا فَوْقَ الْثَّلاَثَةِ ارْتَقَى
Dengan memakai wazan fa'aalilu dan yang sejenisnya ucapkanlah membentuk jamak isim yang lebih dari tiga huruf.
مِنْ غَيْرِ مَا مَضَى وَمِنْ خُمَاسِي ***  جُرِّدَ الاخِرَ انْفِ بِالْقِيَاسِ
Selain dari hal-hal yang telah disebutkan di atas, dari isim khumasi (yang terdiri dari lima huruf) yang mujarrod buanglah huruf akhirnya menurut kias.
وَالْرَّابِعُ الْشَّبِيْهُ بِالْمَزِيْدِ قَدْ ***  يُحْذَفُ دُوْنَ مَا بِهِ تَمَّ الْعَدَدْ
Terkadang huruf keempat yang mirip dengan huruf zaidah (tambahan) dibuang, bukan huruf terakhirnya
وَزَائِدَ الْعَادِي الْرُّبَاعِي احْذِفُهُ مَا ***  لمْ يَكُ لَيْنَاً إثْرَهُ الَّلذْ خَتَما
Buanglah huruf zaidah selain dari huruf yang keempat, selagi huruf yang keempat itu bukan huruf lain yang sesudahnya terdapat hu ruf terakhir.
والسِّين والتَّا مِن كَمُستَدْعٍ أَزِلْ ***  إذ بِبِنا الجمع ِبَقَاهُمَا مُخِلْ
Hilangkanlah huruf sin dan ta dari lafadh yang semisal dengan lafadh mustad'in, sebab bila ditetapkan dalam bentuk jamak, maka bentuk jamak menjadi cacat karenanya.
والميمُ أولى مِن سِوَاهُ بالبَقَا ***  والهَمزُ واليَا مِثلُهُ إن سَبَقَا
Huruf mim lebih utama untuk ditetapkan daripada huruf lain- nya, demikian pula hamzah dan ya sama dengan mim apabila keduanya mendahului
والياءَ لا الواوَ احْذِفِ انْ جمَعَتْ ما ***  كَحَيْزَبُونٍ فَهْوَ حُكْمٌ حُتِمَا
Buanglah ya dan jangan wawu, apabila kedua-duanya dikumpul kan dalam satu lafadh, seperti lafadh hayzabuunun, hal ini merupa kan suatu ketentuan yang harus.
وخَيَّرُوا في زائِدَيْ سَرَنْدَى  *** وكُلِّ ما ضَاهَاهُ كالعَلَنْدَى
Mereka memilih salah satu di antara dua huruf tambahan dalam lafadh sarandaa dan lafadh lafadh lainnya yang sejenis dengannya seperti "alandaa" (tanpa memprioritaskan salah satu di antaranya).
مُرْدِفِيْنَ Dibaca dengan huruf dal yang kasrah merupakan sifat dari kata اَلْفٌ dengan pengertian bahwa kedatangan mereka mengiringi kedatangan yang lain. Artinya, masingmasing malaikat datang silih berganti. مُرْدِفِيْنَ dibaca dengan hurufdal yang fathah dan tidak bertasydid مُرْدَفِيْنَ . Posisinya bisa manshuub sebagai hal dari kaf dan mim/dhomir mukhotobin dalam kalimat مُمِدُّكُمْ, 
اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ
dan bisa juga dalam posisi jarr karena ia sifat dari kata اَلْفٌ artinya mereka mengiringi yang seribu. Ada juga yang membaca مُرَدَّفِيْنَ.
مُرْدِفِيْنَ adalah isim fa'il berbentuk jama' mudzakar salim dari fi'ilnya اَرْدَفَ-يُرْدِفُ-اِرْدَافًا-وَمَرْدَافًا-فَهُوَ-مُرْدِفٌ-وَذَاكَ-مُرْدَفٌ-اًرْدِفْ-لَاتُرْدِفْ mengikuti wazan اَفْعَلَ-يُفْعِلُ-اِفْعَالًا-وَمَفْعَالًا-فَهُوَ-مُفْعِلٌ-وَذَاكَ-مُفْعَلٌ-اَفْعِلْ-لَاتُفْعِلْ dari fi'il tsulatsi mazid بِزِيَادَةِحَرْفٍ وَاحِدٍ (dengan penambahan satu huruf) di sebut juga fi'il tsulatsi mazid ruba'i.
اِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعَاسَ Kalimat ini adalah badal kedua dari kalimat اِذْ يَعِدُكُمُ yang ada pada firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 7:
وَاِذْ يَعِدُكُمُ اللّٰهُ اِحْدَى الطَّاۤىِٕفَتَيْنِ اَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّوْنَ اَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُوْنُ لَكُمْ وَيُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمٰتِهٖ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكٰفِرِيْنَۙ
atau posisinya manshuub oleh kata النَّصْرُ yang ada pada firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 10:
وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ اِلَّا بُشْرٰى وَلِتَطْمَىِٕنَّ بِهٖ قُلُوْبُكُمْۗ وَمَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
atau juga dengan mentaqdirkan/menyembunyikan kalimat اُذْكُر. Fa'il (pelaku) dalam kalimat ini adalah Allah SWT. النُّعَاسَ Kata ini sebagai maf'ul bih (objek), sementara kata اَمَنَةً adalah maf'ul li ajlih, artinya "(lngatlah), ketika Allah membuat kamu mengantuk untuk memberi ketenteraman dari-Nya." Kata اَمَنَةً  sendiri merupakan bentuk ajektif (sifat) dari kata اَمَنَةً artinya sebuah rasa aman yang terjadi padamu yang datang dari Allah SWT.
اِذْ يُوْحِيْ yang ada pada firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 12:
اِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ اِلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ اَنِّيْ مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ سَاُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوْا فَوْقَ الْاَعْنَاقِ وَاضْرِبُوْا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍۗ
Kalimat ini adalah badal ketiga dari kalimat اِذْ يَعِدُكُمُ dan boleh jadi juga diposisikan sebagai manshuub dari kata يُثَبِّتَ  yang ada pada firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 11:
اِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعَاسَ اَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لِّيُطَهِّرَكُمْ بِهٖ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطٰنِ وَلِيَرْبِطَ عَلٰى قُلُوْبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْاَقْدَامَۗ
اَنِّيْ مَعَكُمْ Kalimat ini adalah maf'ul dari kata يُوْحِيْ.
ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ شَاۤقُّوا اللّٰهَ  yang ada pada firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 13:
ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ شَاۤقُّوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗۚ وَمَنْ يُّشَاقِقِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
Kata ذٰلِكَ adalah mubtada' atau khobor dari mubtada', taqdir-nya adalah : الْاَمْرُذٰلِكَ/ذٰلِكَ الْاَمْرُ "urusan itu"
ذٰلِكُمْ فَذُوْقُوْهُ yang ada pada firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 14:
ذٰلِكُمْ فَذُوْقُوْهُ وَاَنَّ لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابَ النَّارِ
Kalimat ini adalah khobar dari mubtada' yang muqoddar (dipersepsikan), taqdir-nya adalah وَالْاَمْرُذٰلِكُمْ. 
وَاَنَّ لِلْكٰفِرِيْنَ Kalimat ini di'athofkan kepada kata ذٰلِكُمْ taqdiir-nya adalah وَالْاَمْرُاَنَّ لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابَ النَّارِ "sementara untuk orong-orang kafir itu disediakan adzab neraka."
Balaaghoh
اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ Dalam kalimat ini digunakan shighoh (bentuk kata) mudlori' (menunjukkan masa akan datang) dan bukan madli (menunjukkan masa lampau) untuk lebih menghadirkan gambaran peristiwa dalam pikiran. وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً didahulukannya jarr dan majrur daripada maf'ul bih untuk lebih memberikan perhatian pada kalimat yang didahulukan dan menimbulkan rangsangan untuk mengetahui substansi kalimat yang dikemudiankan.
ِفَصْلٌ فِي أَبْوَابِ الثُّلَاثِي الْمَزِيْد
أَوَّلُـهَا الرُّبَـاعِ مِثْلُ أَكْرَمَــا (10) وَفَعَّـلَ وَ فَـاعَلاَ كَـخَاصَمَـــا
وَاخْصُصْ خُمَاسِيًّا بِذِي الأَوْزَانِ (11) فَـبَـدْؤُهَا كَـا نْكَـسَرَ وَ الثَّـانِي
اِفْـتَعَلَ اِفْـعَلَّ كَذَا تَفَــعَّلاَ (12) نَــحْوُ تَعَــلَّمَ وَزِدْ تَفَاعَـــلاَ
ثُمَّ السُّدَاسِيْ استَفْعَلاَ وَ افْعَوْعَـلاَ (13) وَافْعَــوَّلَ افْعَـنْلَى يَـلِيهِ افْعَنْلَـلاَ
وَافْعَالَ مَا قَدْ صَاحَبَ الَّلاَمَينِ (14) زَيْـدُ الرُّبَاعِـيِّ عَلَـى نَوْعَــيْنِ
ذِي سِتَّةٍ نَحْوُ افْعَلَلَّ افْعَنْلَـلاَ (15) ثُـمَّ الـخُـمَاسِيْ وَزْنُـهُ تَفَعْلَـلاَ
Mufrodaat Lughowiyyah
اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ meminta bantuan agar dimenangkan menghadapi mereka. اَنِّيْ bahwa Aku. مُمِدُّكُمْ akan mendatangkan bala bantuan kepadamu. مُرْدِفِيْنَ yang datang berturut-turut. Kata-kata ini terambil dari kata-kata الاِرْدَافُ yang berarti membonceng di belakang. Jumlah malaikat yang diturunkan itu pertama kali adalah seribu malaikat kemudian menjadi tiga ribu lalu terakhir lima ribu sebagaimana yang dijelaskan dalam surah Ali'lmron ayat 124 dan 125:
اِذْ تَقُوْلُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ اَلَنْ يَّكْفِيَكُمْ اَنْ يُّمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلٰثَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُنْزَلِيْنَۗ
(Ingatlah), ketika engkau (Muhammad) mengatakan kepada orang-orang beriman, “Apakah tidak cukup bagimu bahwa Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?”
بَلٰٓى ۙاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا وَيَأْتُوْكُمْ مِّنْ فَوْرِهِمْ هٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُسَوِّمِيْنَ
“Ya” (cukup). Jika kamu bersabar dan bertakwa ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.
وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ yang ada pada firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 1o:
وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ اِلَّا بُشْرٰى وَلِتَطْمَىِٕنَّ بِهٖ قُلُوْبُكُمْۗ وَمَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
وَلِتَطْمَىِٕنَّ merasa tenteram setelah perasaan takut dan cemas yang menimpa kamu secara umum. عَزِيْزٌ yang menguasai segala perkara. حَكِيْمٌ yang meletakkan sesuatu pada tempatnya.
يُغَشِّيْكُمُ Dia jadikan rasa kantuk itu seperti selimut bagimu karena ia menguasai dan menyelimuti diri kamu. النُّعَاسَ lemahnya seluruh indra dan otot-otot tubuh yang diikuti dengan tidur. Jadi kantuk merupakan pendahuluan tidur yang ia melemahkan kekuatan indra, sementara tidur menghilangkannya sama sekali. اَمَنَةً ketenteraman dariNya dari rasa takut yang kamu rasakan. اَمَنَةً dari Allah SWT. لِّيُطَهِّرَكُمْ بِهٖ dari berbagai hadas dan junub. رِجْزَ الشَّيْطٰنِ gangguan-gangguan setan untukmu bahwa seandainya kamu berada dalam kebenaran tentu kamu tidak akan merasakan haus dan berhadas, sementara orang-orang musyrik memiliki air yang cukup. وَلِيَرْبِطَ عَلٰى قُلُوْبِكُمْ ditahan atau dikukuhkan dan dibawa kepada rasa sabar dan yakin. وَيُثَبِّتَ بِهِ الْاَقْدَامَۗ tertahan dan tertanam dalam pasir. فَثَبِّتُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ dengan dibantu dan diberi kabar gembira. الرُّعْبَ rasa ketakutan. فَوْقَ الْاَعْنَاقِ kepala. كُلَّ بَنَانٍۗ tiap-tiap ujung jari tangan dan kaki. ذٰلِكَ adzab yang ditimpakan pada mereka itu. اَنَّهُمْ شَاۤقُّوا permusuhan itu dinamakan dengan musyaqqoh (membelah karena ia membuat masing-masing pihak berada di sisi yang saling berbeda. ذٰلِكُمْ adzab yang demikian itu. فَذُوْقُوْهُ wahai orang-orang kafir di dunia وَاَنَّ لِلْكٰفِرِيْنَ bagi orang-orang kafir di akhirat nanti.
Tafsir dan Penjelasan
Ingatlah wahai orang-orang beriman ketika kamu meminta bantuan kepada Tuhanmu saat kamu yakin bahwa perang mesti akan terjadi, sambil berdoa, "Wahai Tuhan kami, tolonglah kami melawan musuh-musuh-Mu, wahai Zat yang Maha Penolong orang-orang yang minta tolong, tolonglah kami." Yang dimaksudkan adalah mengingatkan mereka kepada nikmat Allah SWT terhadap mereka yang telah mendengar doa mereka agar mereka bersyukur dan mengetahui betapa besarnya karunia dan rahmat Allah SWT terhadap mereka.
Lalu Ia memperkenankan (doa) kamu. Artinya, Dia menjawab doa kamu dengan mengatakan, 'Aku akan membantu kamu dengan seribu malaikat secara berturut-turut," maksudnya sebagian mengiringi yang lain, sebagian datang pertama lalu diikuti oleh yang lain, dan begitulah seterusnya para malaikat itu datang silih berganti. Pertama kali datang satu rombongan kemudian taklama setelah itu datang pula yang lain sehingga jumlah mereka seluruhnya menjadi tiga ribu lalu bertambah menjadi lima ribu sebagaimana Allah SWT berfirman dalam suroh Ali'lmron ayat 124-125:
اِذْ تَقُوْلُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ اَلَنْ يَّكْفِيَكُمْ اَنْ يُّمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلٰثَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُنْزَلِيْنَۗ
(Ingatlah), ketika engkau (Muhammad) mengatakan kepada orang-orang beriman, “Apakah tidak cukup bagimu bahwa Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?”
بَلٰٓى ۙاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا وَيَأْتُوْكُمْ مِّنْ فَوْرِهِمْ هٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُسَوِّمِيْنَ
“Ya” (cukup). Jika kamu bersabar dan bertakwa ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.
Dan, tidaklah Allah jadikan pengiriman para malaikat itu dan memberitahukanmu dengan semua itu melainkan sebagai sebuah kabar gembira bagi kamu bahwa kamu pasti akan menang dan agar hatimu menjadi tenang dan damai dari segala keresahan yang meliputi jiwamu, karena sesungguhnya Dia mampu untuk menolongmu melawan musuhmusuhmu secara langsung (tanpa perantara malaikat, pent) Pertolongan yang hakiki dalam sebuah peperangan tidak datang kecuali dari Allah, bukan dari para malaikat ataupun faktor-faktor materi yang kasat mata lainnya. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa dan tidak akan pernah terkalahkan juga Mahabijaksana yang tidak akan meletakkan sesuatu di selain tempatnya, sebagaimana firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim surat Muhammad ayat 4:
فَاِذَا لَقِيْتُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَضَرْبَ الرِّقَابِۗ حَتّٰٓى اِذَآ اَثْخَنْتُمُوْهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَۖ فَاِمَّا مَنًّاۢ بَعْدُ وَاِمَّا فِدَاۤءً حَتّٰى تَضَعَ الْحَرْبُ اَوْزَارَهَا ەۛ ذٰلِكَ ۛ وَلَوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلٰكِنْ لِّيَبْلُوَا۟ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍۗ وَالَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَلَنْ يُّضِلَّ اَعْمَالَهُمْ
Maka apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir (di medan perang), maka pukullah batang leher mereka. Selanjutnya apabila kamu telah mengalahkan mereka, tawanlah mereka, dan setelah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang selesai. Demikianlah, dan sekiranya Allah menghendaki niscaya Dia membinasakan mereka, tetapi Dia hendak menguji kamu satu sama lain. Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak menyia-nyiakan amal mereka.
Apakah para malaikat itu benar-benar ikut perang secara langsung? Sebagian ulama berpendapat bahwa para malaikat tidak berperang secara langsung. Mereka hanya menjadi penguat secara spritual bagi kaum Muslimin. Mereka memperbanyak jumlah kaum Muslimin dan meneguhkan hati mereka. Karena sebenarnya satu malaikat saja sudah cukup untuk membinasakan seluruh penduduk dunia. Malaikat Jibril misalnya, dengan satu helai bulu dari sayapnya bisa membinasakan kota Madain tempat tinggal kaum Nabi Luth. Ia juga mampu membinasakan negeri Tsamud negeri kaum Nabi Shaleh a.s. hanya dengan satu teriakan saja. Pendapat ini dipegang oleh Syekh Muhammad Abduh dan madrosahnya.
Sementara itu, mayoritas ulama berpendapat bahwa pada Perang Badar malakat Jibril turun dengan lima ratus malaikat sayap kanan pasukan, di sana ada sayyidina Abu Bakar Ash-shidiq, sementara malaikat Mikail turun bersama lima ratus yang lain di sayap kiri, di sana ada sayidina 'Ali bin Abu Tholib. Mereka turun dalam bentuk laki-laki yang berpakaian putih dan bersorban putih. Mereka mengulurkan sorban itu sampai ke bahu mereka, lalu mereka berperang. Inilah pendapat yang lebih masyhur yang diriwayatkan dari lbnu Abbas, ia berkata, 'Allah S.W.T membantu Nabi-Nya S.A.W. dan orang-orang beriman dengan seribu malaikat. Malaikat Jibril datang dengan lima ratus dari mereka di salah satu sayap, sementara Malaikat Mikail dengan lima ratus lagi di sayap yang lain." Ini juga pendapat yang lebih kuat dan didukung oleh riwayat-riwayat yang shohih.
Imam Ibnu Jarir dan Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Umar, hadits yang disebutkan di atas. Ada juga hadits-hadits lain yang diriwayatkan berkenaan dengan hal ini. Kalau bukan karena hadits-hadits tersebut, tentu pendapat pertama yang lebih bisa diterima.
Abu Jahal berkata kepada Ibnu Mas'ud, "Dari mana datangnya suara yang kami dengar di Perang Badar; padahal kami tidak melihat siapa-siapa?" Ibnu Mas'ud menjawab, "ltu adalah suara para malaikat." Mendengar hal itu Abu Jahal berkata, "Mereka yang mengalahkan kami, bukan kalian."
Sudah hal yang disepakati para ulama bahwa para malaikat tidak ikut berperang dalam Perang Uhud karena Allah SWT menjanjikan kemenangan kepada kaum Muslimin tetapi tergantung kepada sabar dan taqwa mereka, namun mereka tidak memenuhi syarat tersebut.
Keikutsertaan para malaikat bersama orang-orang beriman tentunya tidak mengecilkan urgensi kewajiban yang mesti dilaksanakan oleh mereka dalam peperangan dalam bentuk yang paling sempurna dan terbaik karena mereka berperang secara mati-matian yang layak untuk dihargai. Dalam sebuah hadits shohihain, Rosulullah S.A.W. bersabda kepada Umar ketika Umar minta izin kepada Rosul untuk membunuh Hathib bin Abi Balta'ah:
اِنَّهُ قَدشَهِدَبَدْرًا, وَمَايُدْرِيْكَ لَعَلّ اللهُ قَدِاطَّلَعَ عَلَى اَهْل بَدْرٍ, فَقَالَ:اِعْلَمُوْامَاشِئْتُمْ فَقَدغَفَرْتُ لَكُمْ
 "Ia ikut dalam Perang Badar. Engkau tidak tahu, boleh jadi Allah telah melihat kepada ahli Badar lalu berfirman, "Lakukanlah apa yang kamu inginkan karena Aku telah mengampuni kalian." (HR Bukhari dan Muslim)
Dampak dari Perang Badar sangat berat dan hebat terhadap Quraisy, karena para pemimpin mereka banyak yang terbunuh oleh pedang, tombak dan tangan-tangan pemuda kaum Muslimin, padahal mereka (tokoh-tokoh Quraisy tersebut) adalah para jawara yang sangat terkenal. Itulah siksaan terhadap kekafiran dan pembangkangan mereka. Allah S.W.T menyiksa umat-umat terdahulu yang mendustai nabi-nabi mereka dengan siksaan yang mengenai seluruh umat yang mendustai tersebut, sebagaimana Allah membinasakan kaum Nabi Nuh dengan angin topan, kaum 'Ad dengan Dabur (angin yang sangat keras), kaum Tsamud dengan suara yang sangat keras, kaum Nabi Luth dengan dibalikkan dan ditimbunkannya tanah mereka kepada mereka dan dilempari dengan batu syijjiil dari neraka jahannam, kaum Syu'aib dengan hari zhullah (panas yang sangat mengerikan), dan Fir'aun beserta pengikutnya dengan tenggelam di lautan.
Nikmat pertama yang diingatkan Allah kepada kaum Muslimin di Perang Badar adalah membantu mereka dengan para malaikat. Kemudian, Allah mengingatkan mereka dengan dua nikmat yang lain, yaitu diberikannya mereka rasa kantuk dan diturunkannya hujan pada mereka. Allah berfirman dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 11:

اِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعَاسَ اَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لِّيُطَهِّرَكُمْ بِهٖ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطٰنِ وَلِيَرْبِطَ عَلٰى قُلُوْبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْاَقْدَامَۗ

(Ingatlah), ketika Allah membuat kamu mengantuk untuk memberi ketenteraman dari-Nya, dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu dan menghilangkan gangguan-gangguan setan dari dirimu dan untuk menguatkan hatimu serta memperteguh telapak kakimu (teguh pendirian).11
Maksudnya, ingatlah nikmat yang telah diturunkan Allah padamu berupa rasa kantuk sehingga rasa kantuk itu menyelimutimu seperti selimut untuk memberi rasa aman padamu dari rasa takut yang menyergap jiwamu ketika melihat jumlah mereka yang banyak dan jumlahmu yang sedikit. Allah SWT melepaskan kaum Muslimin dari kelelahan perjalanan. Siapa yang dikuasai rasa kantuh niscaya tidak akan merasakan takut sama sekali dan ia bisa istirahat serta mengembalikan semangat dan tenaganya. Imam Al-Baihaqi dalam kitab Ad-Dalail meriwayatkan dari Ali r.a., ia berkata, "Tak ada seorang pun jawara perang di antara kami di Perang Badar selain Al-Miqdad. Sungguh aku melihat kondisi kami saat itu, semuanya tertidur, kecuali Rosulullah S.A.W yang sholat di bawah sebuah pohon sampai pagi."
Rasa kantuk itu terjadi di malam sebelum perang keesokan harinya. Peristiwa tidur yang di alami oleh kaum muslimin yang cukup banyak itu dalam kondisi yang sangat mencekam sekaligus merupakan sesuatu yang sangat ajaib dan luar biasa. Padahal, saat itu ada hal sangat penting yang menyibukkan mereka yaitu perang. Akan tetapi, Allah SWT telah mengikat hati mereka.
Imam Al-Mawardi berkata, 'Ada dua pengertian dari penyebutan nikmatAllah yang ada pada mereka berupa tidur pada malam tersebut. Pertama, Allah SWT menguatkan mereka dengan istirahat pada malam itu untuk berperang keesokan harinya. Kedua, bahwa Allah SWT memberi mereka rasa aman dengan sirnanya rasa takut dari hati mereka sebagaimana dikatakan bahwa rasa aman itu akan membuat tidur sementara rasa takut akan membuat tidak bisa tidur.
Demikian juga, Allah SWT melakukan hal yang sama dengan memberikan mereka rasa kantuk dalam Perang Uhud sebagaimana Allah S.W.T berfirman dalam Al-Qur'anul Karim surat Ali 'Imron ayat 154:
ثُمَّ اَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ الْغَمِّ اَمَنَةً نُّعَاسًا يَّغْشٰى طَۤاىِٕفَةً مِّنْكُمْ ۙ وَطَۤاىِٕفَةٌ قَدْ اَهَمَّتْهُمْ اَنْفُسُهُمْ يَظُنُّوْنَ بِاللّٰهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ ۗ يَقُوْلُوْنَ هَلْ لَّنَا مِنَ الْاَمْرِ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ اِنَّ الْاَمْرَ كُلَّهٗ لِلّٰهِ ۗ يُخْفُوْنَ فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ مَّا لَا يُبْدُوْنَ لَكَ ۗ يَقُوْلُوْنَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْاَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هٰهُنَا ۗ قُلْ لَّوْ كُنْتُمْ فِيْ بُيُوْتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِيْنَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ اِلٰى مَضَاجِعِهِمْ ۚ وَلِيَبْتَلِيَ اللّٰهُ مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ
Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan, Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, “Adakah sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini?” Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya segala urusan itu di tangan Allah.” Mereka menyembunyikan dalam hatinya apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. Mereka berkata, “Sekiranya ada sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.” Katakanlah (Muhammad), “Meskipun kamu ada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditetapkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.” Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha Mengetahui isi hati.
Allah SWT juga menurunkan padamu hujan dari langit untuk menyucikanmu dari hadats dan junub, serta menghilangkan darimu kecemasan dari setan dan kekhawatiran terhadap rasa haus yang dibisikkannya. Ada pendapat yang mengatakan bahwa maknanya Allah hilangkan junub yang menimpa sebagian kamu karena pengkhayalan yang datang dari setan.
Secara tekstual, ayat menunjukkan bahwa rasa kantuk itu terjadi sebelum hujan turun, yaitu pada malam tujuh belas Romadlon. Sedangkan Mujahid dan Ibnu Abi Najih berpendapat bahwa hujan turun sebelum rasa kantuk datang.
Sebab diturunkannya hujan adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mundzir melalui sanad Ibnu Jarir Ath-Thobari dari Ibnu Abbas bahwa kaum musyrikin pada awalnya mendominasi air sehingga kaum Muslimin menjadi kehausan. Mereka salat dalam keadaan junub dan berhadats. Di sekitar mereka hanya terdapat pasir. Kemudian setan memasukkan rasa gundah dan sedih ke dalam hati mereka. Setan berkata, "Kalian mengklaim bahwa di antara kalian ada seorang Nabi dan kalian adalah kekasih-kekasih Allah, namun kalian shalat dalam keadaan junub dan berhadats." Allah menurunkan air dari langit dan mengalirlah air seperti sungai kepada kaum Muslimin. Mereka kemudian minum dan bersuci. Kaki mereka menjadi kukuh berdiri di pasir yang keras itu dan hilanglah kecemasan dalam hati mereka. Dlomir (kata ganti) dalam kata ("بِهِ ")dengannya" merujuk kepada air atau hujan.
Rosulullah S.A.W bersama para sahabatnya segera menguasai air yang terkumpul dari air hujan. Mereka berkemah di dekat daerah air tersebut dan membuat kolam-kolam. Kemudian mereka gali sumber-sumber air lainnya. Para sohabat membangun sebuah kemah kecil di pinggir medan peperangan. Ini yang dijelaskan oleh riwayatyaitu bahwa kaum musyrikin telah didahului kaum Muslimin untuk berkumpul di daerah sekitar air dalam Perang Badar.
Riwayat yang terkenal adalah riwayat Ibnu Ishaq dalam sirahnya dan yang diikuti oleh Ibnu Hisyam dalam kitab sirahnya juga bahwa ketika tiba di daerah Badar, Rosulullah saw. berhenti di daerah air terdekat. Maksudnya, ia berkemah di sumur air terdekat yang dijumpainya. Al-Hubab bin Mundzir datang menemui Rosulullah S.A.W Ia berkata, "Wahai Rosulullah, mengenai tempat ini, apakah ini tempat yang telah ditentukan oleh Allah untukmu, sehingga kita kita tidak bisa maju lagi atau mundur atau ia hanya sebuah gagasan dan taktik perang?" Rosulullah saw. Menjawab, "lni hanya sebuah ide dan taktik perang." Al-Hubab melanjutkan, "Wahai Rosulullah, ini bukan tempat yang tepat. Mari kita pindah dan menuju sumber air yang paling dekat dengan musuh,lalu kita berkemah di sana dan kita gali sumber-sumber air di sekitarnya kemudian kita buat kolam dan kita penuhi dengan air. Setelah itu baru kita memerangi musuh-musuh kita sehingga kita bisa minum sementara mereka tidak." Mendengar hal itu Rosulullah saw bersabda, "Bagus sekali gagasanmu 'Lalu mereka melaksanakan seperti yang diusulkan oleh Al-Hubab.
Ibnu Katsir berkata, Riwayat yang lebih baik dari ini adalah yang diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin Ishaq pengarang kitab Al-Maghozi, dari Urwah bin Zubair ia berkata, 'Allah SWT menurunkan hujan. Sebelumnya daerah yang ditempati kaum Muslimin adalah berupa dahs (pasir yang membuat kaki tenggelam ketika berjalan di atasnya) Hujan yang turun pada Rosulullah S.A.W. dan para sahabatnya membuat tanah semakin keras sehingga mereka tidak terhalang untuk terus bergerak, sementara hujan yang menimpa Quroisy membuat mereka tidak bisa bergerak dengan leluasa."
Kami berpendapat bahwa nash ayat Al-Qur'an sejalan dengan riwayat yang dipandang baik oleh Ibnu Katsir dan yang juga dipakai oleh mayoritas ahli tafsir seperti Ath-Thobari, Zamakhsyari, Ar-Rozi dan lain-lain. Al-Baidlowi juga menyebutkan sebuah riwayat yang mendukung hal tersebut. Ia berkata, "Diriwayatkan bahwa kaum Muslimin berkemah di daerah yang lembek yang membuat kaki terperosok serta tidak ada air. Ketika mereka tidur, sebagian besar di antara mereka bermimpi (yang membuat mereka wajib mandi). Sementara itu, kaum musyrikin menguasai daerah yang berair. Setan pun memasukkan kecemasannya terhadap kaum Muslimin. Ia berkata, "Bagaimana mungkin kalian akan menang, sementara kalian telah kalah untuk mendapatkan tempat yang berair. Sekarang saja kalian salat dalam keadaan berhadats dan junub lalu kalian menganggap diri kalian sebagai wali-wali Allah dan RosulNya ada bersama kalian?" Mereka menjadi sangat sedih dan gundah dengan kondisi yang mereka alami. Kemudian, Allah menurunkan hujan. Hujan turun pada mereka di malam hari, sampai-sampai hujan itu meyebabkan munculnya lembah-lembah sungai. Mereka kemudian membuat kolam-kolam di pinggir lembah-lembah itu. Mereka beri minum kudakuda mereka. Mereka mandi dan berwudlu. Pasir yang terdapat antara mereka dan musuh menjadi keras sehingga kaki-kaki mereka bisa kukuh ketika berjalan dan semua kecemasan setan itu hilang."
Kemudian, Al-Baidlowi menyebutkan pengertian dari firman Allah S.W.T, وَلِيَرْبِطَ عَلٰى قُلُوْبِكُمْ yaitu dengan cara percaya kepada kasih sayang Allah pada mereka, وَيُثَبِّتَ بِهِ الْاَقْدَامَۗ yaitu dengan diturunkannya hujan sehingga kaki mereka tidak terperosok ke dalam pasir atau dengan mengukuhkan hati mereka sehingga kuat dan berani dalam peperangan. Pendapat yang paling benar adalah yang disebutkan oleh Al-Qurthubi dari Ibnu Ishaq dalam sirah-nya dan ulama lainnya. Pendapat ini yang bisa mengompromikan berbagai riwayat bahwa berbagai kondisi yang diikuti oleh turunnya hujan teriadi sebelum mereka sampai ke Badar.(Tafsir al-Qurthubi 7 /373).
Nikmat lain yang juga disebutkan kepada orang-orang beriman dalam Perang Badar adalah sebuah nikmat yang tidak terlihat dan Allah S.W.T nyatakan pada mereka agar mereka syukuri, yaitu pengilhaman Allah kepada para malaikat bahwa Dia bersama mereka, kebersamaan membantu, menolong, dan meneguhkan. Dia berfirman, اِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 12:
اِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ اِلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ اَنِّيْ مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ سَاُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوْا فَوْقَ الْاَعْنَاقِ وَاضْرِبُوْا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍۗ
Maksudnya, ingatlah ketika Allah SWT mewahyukan kepada para malaikat bahwa Dia bersama mereka ketika Dia mengutus mereka (para malaikat itu) sebagai bantuan untuk kaum Muslimin atau Dia mewahyukan kepada para malaikat bahwa 'Aku bersama orangorang yang beriman maka tolonglah dan kukuhkan mereka." Ar-Rozi berkata, "Tafsir kedua ini lebih baik karena yang dituju dari firman ini adalah untuk menghilangkan rasa takut, sementara para malaikat tidak pernah takut pada kaum kafir. Yang takut itu adalah kaum Muslimin."(Tafsir ar-Razi tS /135).
Yang dimaksud dengan'kebersamaan' dalam ayat ini adalah kebersamaan pertolongan, bantuan, dan peneguhan pada saatsaat yang berat dalam perang. Mereka (para malaikat) meneguhkan hati orang-orang beriman, menguatkan semangat mereka, mengingatkan mereka kepada janji Allah bahwa Dia pasti akan menolong Rosul-Nya dan orang-orang yang beriman, dan Allah SWT tidak akan pernah melanggar janji. Ada pendapat yang mengatakan bahwa para malaikat itu datang menyerupai laki-laki yang sudah dikenal orang-orang beriman. Mereka membantu kaum Muslimin untuk menang dalam peperangan tersebut.
Al-Baihaqi meriwayatkan dalam kitab Ad-Dalail bahwa malaikat itu datang pada seorang Muslim dalam bentuk orang yang dikenalnya, lalu ia berkata, "Bergembiralah karena mereka fkaum kafir) tidak ada apa-apanya. Allah SWT bersamamu, seranglah mereka kembali."
Pengertian ketiga tentang makna 'peneguhan' di sini diriwayatkan dari Az-Zajjaj yaitu malaikat memiliki kemampuan untuk memasukkan kebaikan yaitu ilham sebagaimana halnya setan memiliki kemampuan untuk memasukkan keburukan yaitu kecemasan.
Kemudian, Allah SWT menyebutkan apa yang dimaksud dengan firman-Nya اَنِّيْ مَعَكُمْ dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 12:
اِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ اِلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ اَنِّيْ مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ سَاُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوْا فَوْقَ الْاَعْنَاقِ وَاضْرِبُوْا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍۗ
yaitu bahwa Aku bersamamu dalam membantumu dengan memasukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir. Jadi, di antara nikmat terbesar Allah S.W.T kepada orangorang beriman adalah ditanamkannya rasa takut dan kecut ke dalam jiwa orang-orang kafir. Dengan demikian, pukul dan potonglah kepala mereka yang di atas leher. potong juga leher mereka dan jari-jari mereka yaitu jari-jari tangan dan kaki. Artinya Allah S.W.T memerintahkan mereka untuk memukul bagian tubuh yang mematikan dan yang tidak mematikan.
Kemudian, Allah SWT menjelaskan sebab Dia membantu dan menguatkan orang-orang beriman. Dia berfirman ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ شَاۤقُّوا dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 13:
ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ شَاۤقُّوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗۚ وَمَنْ يُّشَاقِقِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
Artinya, bantuan dan penguatan Allah S.W.T terhadap Nabi dan orang-orang beriman itu adalah karena orang-orang musyrik telah mendurhakai Allah S.W.T dan Rosul-Nya. Mereka telah memusuhi dan menentang Allah S.W.T dan Rosul-Nya. Mereka berjalan di satu arah lalu mereka tinggalkan syari'at, iman kepada syari'at, dan mengikuti syari'at di arah yang lain.
وَمَنْ يُّشَاقِقِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ artinya barang siapa yang melawan perintah Allah S.W.T dan Rosul-Nya serta memusuhi keduanya selain kekalahan dan kehinaan di dunia, ia juga akan mendapatkan adzab yang keras di akhirat. Itulah adzab yang Aku segerakan untuk kalian wahai orang-orang kafir yang menentang Allah dan Rosul-Nya di dunia berupa kehinaan dan kekalahan serta segala hal yang mengikutinya seperti terbunuh dan tertawan, rasakanlah oleh kalian sekarang juga. Kalian juga akan mendapat adzab jahannam di akhirat nanti jika kalian tetap saja berada dalam kekafiran.
Digunakan kata-kata الذَّوْقُ yang berarti mencicipi sedikit makanan guna mengetahui rasanya secara keseluruhan untuk menunjukkan kepedihan dan adzab yang disegerakan untuk mereka di dunia. Ini adalah sebagai bentuk kiasan bahwa yang dirasakan di dunia ini adalah ibarat mencicipi sedikit adzab jika dibandingkan dengan adzab maha dahsyat yang disediakan untuk mereka di akhirat nanti.
Fiqih Hukum Dan Kehidupan
Ayat-ayat di atas menunjukkan tiga hal; mengingatkan beberapa nikmat, mengajarkan cara membunuh, dan adzab bagi orang yang mendurhakai atau memusuhi Allah S.W.T dan Rosul-Nya.
Nikmat-nikmat yang disebutkan dan yang ingin Allah S.W.T ingatkan dalam perang Badar ada tujuh;
Pertama,pertolongan ketika diminta, yaitu dengan turunnya malaikat yang membantu mereka dalam peperangan. Tidak ada kontradiksi antara penyebutan jumlah malaikat dalam surah ini (seribu malaikat) dan dalam surah Ali 'lmron (tiga ribu sampai lima ribu malaikat), karena Allah SWT mengirimkan bantuan itu secara berturut-turut. Dia mengirimkan pertama kali seribu malaikat, kemudian tiga ribu,lalu lima ribu ketika kaum Muslimin berperisaikan dengan kesabaran dan ketaqwaan.
Kedua, memberikan rasa kantuk dan tidur di malam sebelum terjadi peperangan.
Ketiga, hujan diturunkan dari langit untuk bersuci secara lahir dengan cara membersihkan badan, berwudlu, dan mandi dari junub, serta bersuci secara batin dengan dihilangkannya kecemasan setan dari dalam diri orang-orang beriman.
Keempat, mengikat hati orang-orang beriman. Artinya, menguatkannya dan menghilangkan ketakutan dan kekhawatiran dari mereka, memenuhi jiwa mereka dengan rasa sabar dan menyemangati mereka untuk menghadapi dan memerangi musuh-musuh mereka.
Kelima, mengukuhkan kaki di atas pasir yang telah saling menyatu akibat hujan. Dari hal ini bisa dipahami bahwa kondisi para musuh berbeda dengan hal itu.
Keenam,wahyu kepada malaikat bahwa Allah S.W.T bersama orang-orang beriman, bantu dan kukuhkanlah mereka.
Ketujuh, memasukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir. Ini merupakan nikmat yang sangat besar yang diberikan Allah S.W.T kepada orang-orang beriman.
Sementara itu, cara untuk membunuh, Allah S.W.T memerintahkan kaum Mukminin untuk membunuh orang-orang kafir tepat pada bagian tubuh mereka yang mematikan dengan cara memukul ubun-ubun dan kepala mereka yang terletak di atas leher serta memukul bagian tubuh yang tidak mematikan dengan memotong jari-jari tangan dan kaki karena jari adalah alat untuk memegang pedang, tombah dan senjata-senjata lainnya. Jadi, apabila jarijari mereka telah dipotong, mereka tidak bisa untuk berperang lagi.
Adzab bagi orang yang mendurhakai dan menentang Allah dan Rosul-Nya adalah kehinaan dan kekalahan di dunia serta adzab yang sangat berat di neraka jahannam di hari Kiamat kelak. Tujuan penyebutan adzab ini adalah sebagai ancaman terhadap kekafiran dan pencelaan orang-orang kafir karena siksaan terhadap kekafiran itu dua macam; ada yang disegerakan di dunia dan ada yang ditangguhkan di akhirat.
Keutamaan dan kelebihan pejuang Badar bukan karena tubuh mereka, melainkan karena perbuatan mereka. Imam Malik berkata, 'Ada riwayat yang sampai padaku bahwa Jibril a.s. berkata kepada Nabi S.A.W, Bagaimana posisi pejuang Badar di kalangan kalian? Nabi S.A.W. bersabda, "Mereka adalah orang-orang terbaik di antara kami." Jibril berkata, "Mereka iuga demikian dalam pandangan kami." Jadi, hal itu adalah karena jihad mereka dan jihad yang paling utama adalah Perang Badar karena bangunan Islam seluruhnya bergantung kepada perang tersebut.
Islam mewajibkan untuk menguburkan jasad orang-orang yang terbunuh meskipun mereka adalah para musuh. Nabi S.A.W. memerintahkan para sahabat untuk menguburkan orang-orang musyrik yang mati di Perang Badar sejumlah tujuh puluh orang di dalam sebuah telaga kuno yang ada di sekitar Badar.
Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rosulullah saw. membiarkan korban Perang Badar dari kalangan musuh selama tiga hari. Setelah itu ia berdiri di dekat bangkai mereka dan menyeru, "Wahai Abu Jahal bin Hisyam, wahai Umayyah bin Kholaf, wahai Utbah bin Robi'ah, wahai Syaibah bin Robi'ah, tidakkah telah kalian dapatkan apa yang telah dijanjikan Tuhan kalian sesuatu yang benar? Aku sudah mendapatkan apa yang telah dijanjikan Tuhanku sebagai sesuatu yang benar."
Umar mendengar seruan Nabi S.A.W. kepada mereka, lalu ia berkata, "Wahai Rosulullah, bagaimana mungkin mereka akan mendengar bagaimana mungkin mereka akan menjawab sementara mereka telah meniadi bangkai dan membusuk (Umar mengatakan hal ini karena sesuai hukum adat kebiasaan hal tersebut sangat tidak mungkin, Nabi S.A.W menjawab, mereka bisa mendengar sebagaimana halnya orang hidup)?" Nabi saw. menjawab, "Demi Dzat yang jiwaku dalam genggaman-Nya, kalian tidak lebih bisa mendengar apa yang aku serukan daripada mereka, akan tetapi mereka tidak mampu menjawabnya." Kemudian, Nabi saw. memerintahkan untuk menarik jasad mereka lalu dilemparkan parit di Badar.
Al-Qurthubi berkata, bahwa kematian itu tidak ke dalam sebuah "lni menunjukkan berarti ketiadaan atau fana. Ia hanya terputus dan terpisahnya hubungan ruh dengan badan dan berganti kondisi serta perpindahan dari sebuah alam ke alam yang lain. Rasulullah saw. bersabda,
اِنَّ الْمَييِّتَ اِذَاوُضِعَ فِى قَبْرِه وَتَوَلَّى عَنْهُ اَصْحَابُهُ اِنَّه لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَلِهِمْ
"Sesungguhnya ketika mayat diletakkan di kuburnya dan orang-orang yang mengantarnya telah pulang ia akan mendengar suara sandal mereka." (Hadits shahih) (Tafsir al-QurthubiT /377)